Lampu merahnews.id
ACEH TAMIANG | Di balik kesibukan memburu berita dan menyajikan informasi untuk publik, para wartawan di Aceh Tamiang menyimpan satu hal yang tak kalah penting: persaudaraan.
Suasana itulah yang terasa dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang, Rabu (18/03/2026), di sebuah kafe sederhana di Kecamatan Karang Baru.
Menjelang waktu berbuka, tawa dan obrolan ringan mulai memenuhi ruangan. Para jurnalis yang sehari-hari disibukkan dengan deadline dan liputan, sore itu tampak lebih santai. Mereka tidak sedang mengejar narasumber, melainkan saling mendekatkan diri satu sama lain.
Bagi mereka, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperkuat ikatan yang selama ini terjalin dalam profesi yang penuh dinamika.
Ketua DPD SWI Aceh Tamiang, Hendriko Lubis, menyebut kebersamaan seperti ini menjadi ruang penting untuk menjaga kekompakan di tengah perbedaan sudut pandang yang kerap muncul dalam dunia jurnalistik.
“Di lapangan kita bisa berbeda, tapi di sini kita kembali sebagai keluarga. Kebersamaan ini yang harus terus kita jaga,” ujarnya.
Tak sekadar berbuka puasa, kegiatan ini juga diisi dengan perbincangan ringan hingga refleksi tentang makna profesi wartawan. Obrolan mengalir dari pengalaman liputan hingga nilai-nilai keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai penyampai informasi publik.
Dalam suasana yang hangat itu, Fahkrul Razi, Kepala Divisi Diklat dan Pengembangan SDM SWI, mengingatkan bahwa kemitraan wartawan bukan sekadar kedekatan dengan berbagai pihak, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara hubungan profesional dan tanggung jawab kepada publik.
“Wartawan adalah jembatan informasi. Kita harus tetap menjaga independensi, mendorong transparansi, dan mengawal akuntabilitas,” ungkapnya.
Menjelang akhir acara, kebersamaan semakin terasa. Satu per satu anggota saling berbagi cerita, pengalaman, bahkan canda yang mungkin jarang muncul di tengah rutinitas kerja.
Ada kehangatan yang tidak bisa dituliskan dalam berita harian—tentang rasa saling memahami, saling mendukung, dan menjadi bagian dari keluarga besar yang sama.
Kegiatan sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita yang tersaji, ada manusia-manusia yang bekerja dengan hati. Dan di bulan Ramadan, mereka menemukan kembali makna kebersamaan itu.
DPD SWI Aceh Tamiang berharap, silaturahmi seperti ini tidak hanya terjaga dalam momen tertentu, tetapi terus hidup dalam setiap langkah insan pers, sebagai kekuatan untuk tetap profesional sekaligus humanis dalam menjalankan tugas jurnalistik
(tz)


