-->

TERKINI

Keteladanan Guru Melemah, Karakter Siswa Aceh Tamiang Kian Tergerus

lampumerahnews
Sabtu, 02 Mei 2026, 15.12 WIB Last Updated 2026-05-02T08:12:54Z

Lampumerahnews.id



Aceh Tamiang — Di tengah peringatan Hardiknas 2026, perhatian terhadap pendidikan di Aceh Tamiang tak hanya soal kurikulum dan nilai akademik. Keteladanan guru justru menjadi sorotan, seiring kekhawatiran akan mulai memudarnya sikap dan perilaku yang selama ini menjadi panutan siswa. Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Tamiang menilai, lemahnya keteladanan berisiko langsung pada pembentukan karakter generasi muda.


Di lapangan, siswa tidak hanya menyerap pelajaran, tetapi juga meniru kebiasaan guru—mulai dari kedisiplinan, cara berkomunikasi, hingga sikap dalam menghadapi masalah. Ketika teladan itu longgar, dampaknya ikut terasa: disiplin menurun, rasa hormat melemah, hingga nilai kejujuran yang perlahan terkikis. Kondisi ini dinilai semakin terlihat di tengah perubahan perilaku siswa di era digital yang kian terbuka.


Ketua MPD Aceh Tamiang, Mutaqqin, menegaskan guru tetap menjadi figur utama yang ditiru murid dalam keseharian. 


“Guru itu digugu dan ditiru. Murid bukan hanya dengar apa yang kita sampaikan, tapi juga melihat apa yang kita lakukan. Dari situlah mereka belajar,” ujarnya.


Ia mengingatkan, konsistensi sikap menjadi kunci menjaga wibawa guru. “Kalau kita minta murid disiplin, guru juga harus menunjukkan hal yang sama. Sekali tidak konsisten, murid cepat menangkap dan wibawa bisa hilang,” tambahnya.


Menurutnya, ada lima sikap yang harus dijaga guru, yakni integritas, disiplin dan tanggung jawab, empati dan keadilan, semangat belajar sepanjang hayat, serta akhlak dan tutur kata yang baik. Nilai-nilai ini, kata dia, bukan sekadar konsep, tetapi langsung tercermin dalam keseharian dan ditiru oleh siswa.


Di tengah itu, sekolah juga dinilai cenderung lebih fokus mengejar capaian akademik, sementara aspek keteladanan kerap luput dari perhatian. Padahal, dalam kondisi sosial yang terus berubah—termasuk pengaruh teknologi dan media sosial—peran guru sebagai panutan justru semakin penting.


MPD Aceh Tamiang mengingatkan, pembentukan karakter tidak bisa hanya dibebankan pada kurikulum tertulis. Lingkungan belajar, terutama sikap guru, menjadi faktor penentu yang paling nyata dirasakan siswa. Tanpa keteladanan yang kuat, pendidikan berisiko hanya menghasilkan capaian angka tanpa makna.


“Anak mungkin lupa pelajaran yang diajarkan, tapi mereka akan ingat bagaimana guru memperlakukan mereka. Di situlah letak pentingnya keteladanan,” tutup Mutaqqin.


(Kamalruzamal)

Komentar

Tampilkan

Terkini