Lampumerahnews.id
ACEH TAMIANG - Deru mesin molen itu tak pernah benar-benar sunyi. Sejak pagi, suaranya memecah udara Desa Suka Makmur, Kecamatan Sekerak. Bising, berasap, dan melelahkan—namun justru di situlah harapan sedang dibangun, perlahan demi perlahan.
Di lokasi TMMD Reguler ke-128 Kodim 0117/Aceh Tamiang, prajurit TNI dan warga bekerja tanpa banyak keluhan. Tangan-tangan mereka sibuk, wajah-wajah mereka serius, sementara suara mesin terus mengiringi setiap adukan semen yang akan menjadi jembatan penghubung aktivitas masyarakat.
Di tengah aktivitas itu, sejumlah prajurit dan warga tampak merakit bekisting kayu rangka awal jembatan yang akan dicor betou menandai bahwa pembangunan telah memasuki tahap konstruksi inti.
Tak ada yang benar-benar peduli dengan kebisingan itu lagi. Bahkan, bagi sebagian dari mereka, deru molen justru terasa seperti penanda: pekerjaan hari ini masih berjalan, harapan itu masih dikerjakan.
Kepulan asap dari mesin diesel sesekali membumbung, bercampur dengan debu dan keringat. Namun, langkah mereka tidak berhenti.
Mereka tahu, jembatan yang sedang dibangun ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan akses yang akan mempermudah aktivitas warga ke depan.
Koordinator pembangunan, Kapten Erwinsyah, menyebut mesin molen sebagai “teman setia” di tengah keterbatasan tenaga manusia.
“Ini merupakan alat yang penting bagi kami. Tiap harinya, mesin pengaduk material ini tanpa henti bekerja dari pagi hingga sore untuk memudahkan pekerjaan,” ujarnya pada media ini, Senin (04/5/2026)
Menurutnya, tanpa bantuan alat tersebut, pekerjaan akan jauh lebih berat dan memakan waktu lebih lama.
“Sebagai manusia tentu ada keterbatasan tenaga. Jika harus terus menerus mengaduk semen secara manual, maka pembangunan bisa terlambat,” tambahnya.
Namun lebih dari sekadar alat, keberadaan mesin itu seolah menjadi saksi kebersamaan. Prajurit dan warga berdiri di sisi yang sama—berbagi tenaga, waktu, dan tujuan.
Cuaca yang tak menentu tak banyak mengubah keadaan. Selama mesin masih menyala, pekerjaan tetap berjalan. Selama itu pula, semangat tidak surut.
Di tengah bising yang mungkin tak disukai banyak orang, ada peluh yang jatuh tanpa banyak kata. Dan di setiap putaran molen itu, tersimpan harapan—bahwa suatu hari, jembatan ini akan dilintasi dengan cerita yang jauh lebih ringan.
(tz)


