Lampumerahnews.id
Aceh Tamiang - Lonjakan pengangguran di Provinsi mulai menjadi alarm serius bagi dunia kerja dan ekonomi daerah. Di tengah lapangan kerja yang terbatas dan perubahan kebutuhan industri yang semakin cepat, ribuan generasi muda Aceh terancam sulit bersaing jika tidak dibekali keterampilan dan sertifikasi kompetensi yang memadai.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh pada Februari 2026 mencapai 5,88 persen atau sekitar 156 ribu orang. Angka itu meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menunjukkan pasar kerja Aceh masih menghadapi tekanan besar, terutama bagi lulusan muda dan pencari kerja baru.
Kondisi tersebut mulai direspons sejumlah pemerintah daerah, termasuk Kabupaten , melalui program pelatihan kompetensi berbasis sertifikasi lewat Skills Development Center (SDC) yang digelar Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Medan.
Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menilai generasi muda saat ini tidak bisa lagi hanya bergantung pada peluang kerja formal yang semakin terbatas. Menurutnya, perubahan dunia kerja menuntut kemampuan praktis, penguasaan teknologi serta keberanian membangun usaha mandiri.
“Dunia sudah berubah, kehidupan ke depan semakin menantang dan kompetitif. Gali potensi diri dan harus ada kemampuan sendiri jangan hanya berharap kepada orang lain serta manfaatkan teknologi,” ujar Armia saat membuka pelatihan SDC di Aula Setdakab, Jumat (22/5/2026).
Ia mengatakan pemerintah daerah ingin mengubah pola pikir masyarakat agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri melalui keterampilan yang dimiliki.
Program pelatihan tersebut mencakup bakery, menjahit hingga operator drone yang dinilai memiliki peluang kerja cukup terbuka di tengah perkembangan kebutuhan industri dan jasa. Sebanyak 64 peserta dijadwalkan mengikuti pelatihan di BBPVP Medan selama 26 hari mulai awal Juni.
Kepala Disnakertrans Aceh Tamiang, Rafe’i, menyebut seluruh peserta akan mendapatkan fasilitas pelatihan lengkap hingga sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai bekal memasuki dunia kerja.
“Peserta nanti akan tinggal di Balai Pelatihan, akan mendapatkan konsumsi, uang saku, pakaian praktik, biaya laundry dan sertifikat BNSP,” kata Rafe’i.
Selain menekan pengangguran, program pelatihan berbasis kompetensi dinilai penting untuk mencegah bonus demografi Aceh berubah menjadi beban sosial-ekonomi baru. Tanpa peningkatan kualitas tenaga kerja lokal, generasi muda Aceh dikhawatirkan semakin tertinggal dalam persaingan kerja yang kini makin berbasis teknologi dan sertifikasi keahlian.
(Kamalruzamal)


