-->

TERKINI

Peran Guru Aceh Tamiang Menguat Pascabanjir, PGRI Soroti Kesejahteraan PPPK

lampumerahnews
Senin, 27 April 2026, 13.12 WIB Last Updated 2026-04-27T06:13:51Z

Lampumerahnews.id



Aceh Tamiang - Pemulihan pascabanjir di Aceh Tamiang belum sepenuhnya menormalkan dunia pendidikan. Ratusan sekolah masih dalam kondisi rusak, sementara proses belajar harus terus berjalan. Di tengah situasi itu, peran guru menjadi penopang utama—tidak hanya mengajar, tetapi juga menjaga anak-anak tetap belajar di tengah keterbatasan.


Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang mencatat 439 bangunan sekolah terdampak banjir bandang akhir 2025, terdiri dari 73 rusak berat, 306 rusak sedang, dan 60 rusak ringan. Kerusakan ini mencakup jenjang PAUD hingga SMA/SMK. Renovasi memang sudah dimulai sejak April 2026, namun pemulihan pendidikan belum sepenuhnya pulih, bahkan masih menunggu usulan revitalisasi lanjutan untuk puluhan sekolah lainnya.


Dalam kondisi itulah Konferensi PGRI ke-23 Kabupaten Aceh Tamiang digelar di FN Kafe Kampung Dalam, Sabtu (25/4/2026). Forum ini tidak sekadar agenda organisasi, tetapi menjadi ruang berkumpulnya para guru untuk menyatukan langkah menghadapi masa pemulihan, sekaligus memperkuat peran mereka di tengah masyarakat.


Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, menegaskan bahwa PGRI selama ini telah menjadi mitra penting pemerintah daerah, terutama sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan.


“Pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan akan terus bersinergi mencari solusi agar kesejahteraan guru dapat terpenuhi,” ujarnya.


Di balik peran besar itu, persoalan kesejahteraan masih menjadi ganjalan, khususnya bagi guru PPPK paruh waktu. Pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk pembayaran honorarium, namun di lapangan kebutuhan guru dinilai masih jauh dari ideal.


Situasi ini terasa kontras. Guru dituntut hadir di tengah krisis—mengajar dalam keterbatasan, mendampingi siswa yang terdampak, hingga menjaga semangat belajar tetap hidup—sementara kesejahteraan mereka masih menunggu perbaikan bertahap.


Ketua PGRI Aceh, Al Munzir, menyampaikan bahwa organisasinya ikut bergerak saat bencana, mulai dari penyaluran bantuan hingga mendukung pemulihan pendidikan. Ketua PGRI Aceh Tamiang, M. Nurdin, juga menegaskan pihaknya mendirikan posko dan membantu guru, siswa, serta masyarakat terdampak.


Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan Aceh Tamiang tidak hanya soal membangun kembali sekolah yang rusak, tetapi juga menjaga keberlangsungan pendidikan dari sisi manusianya. Guru menjadi bagian penting dari proses itu, sekaligus penopang ketahanan sosial di tengah masa pemulihan yang belum sepenuhnya selesai.



(Kamalruzamal)

Komentar

Tampilkan

Terkini