-->

TERKINI

Sekolah Rusak Parah, Pendidikan Aceh Tamiang Bertahan di Tengah Tanggap Darurat

lampumerahnews
Rabu, 21 Januari 2026, 09.15 WIB Last Updated 2026-01-21T02:16:27Z

Lampumerahnews.id


Aceh Tamiang-Ratusan sekolah terdampak banjir bandang, sebagian siswa mulai belajar di ruang darurat, sementara lainnya masih menunggu lumpur dibersihkan.


Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang masih menyisakan persoalan serius di sektor pendidikan. Hingga kini, proses belajar-mengajar berlangsung dalam kondisi darurat. Sejumlah sekolah mulai membuka kembali kegiatan belajar dengan berbagai keterbatasan, sementara sebagian lainnya belum dapat beroperasi karena lingkungan sekolah masih tertutup lumpur.


Data kerusakan mencatat sebanyak 412 sekolah terdampak banjir bandang, dengan rincian 94 sekolah rusak berat, 259 rusak sedang, dan 59 rusak ringan. Kondisi ini berdampak langsung pada terhentinya layanan pendidikan di sejumlah lokasi, pemangkasan jam belajar, hingga pemindahan kegiatan belajar ke ruang-ruang darurat.


Hasil kunjungan lapangan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) menunjukkan bahwa sebagian sekolah telah berupaya mengaktifkan kembali proses belajar meski dalam kondisi serba terbatas. Pada jenjang PAUD dan SD, kegiatan belajar umumnya dilakukan di ruang darurat, rumah warga, atau fasilitas sementara dengan tingkat kehadiran siswa berkisar 65 hingga 80 persen, serta durasi belajar yang dipangkas menjadi 2,5 sampai 3,5 jam per hari.


Namun demikian, tidak semua sekolah dapat bergerak cepat. Sejumlah sekolah masih belum dapat memulai kembali kegiatan belajar karena lumpur belum dibersihkan dan lingkungan sekolah dinilai belum aman. Kondisi ini menyebabkan sebagian siswa sepenuhnya terhenti dari aktivitas pendidikan sejak banjir terjadi.


Di beberapa sekolah lain, pembelajaran dilakukan dengan sistem bergilir dan memanfaatkan tenda pengungsian sebagai ruang kelas sementara. Pola ini diterapkan untuk mengatasi keterbatasan ruang sekaligus memastikan seluruh siswa tetap mendapat kesempatan belajar, meskipun dengan intensitas yang sangat terbatas.


Pada jenjang pendidikan menengah, kegiatan belajar darurat sudah mulai berjalan, namun tingkat kehadiran siswa masih relatif rendah. Selain keterbatasan fasilitas, faktor psikologis siswa serta kondisi keluarga pasca banjir turut memengaruhi partisipasi siswa dalam kegiatan belajar.


Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten Aceh Tamiang, Mutaqin, menyebutkan bahwa kondisi pendidikan saat ini masih berlangsung dalam situasi darurat. Menurutnya, sekolah dan guru telah berupaya menjaga agar proses belajar tetap berjalan di tengah keterbatasan pasca banjir. 


“Upaya yang dilakukan sekolah perlu didukung agar layanan pendidikan darurat bisa berjalan lebih baik, terutama bagi sekolah yang belum dapat beroperasi karena kondisi lingkungan yang belum memungkinkan,” kata Mutaqin. (19/1/26)


MPD menilai dunia pendidikan Aceh Tamiang saat ini masih berada pada fase bertahan di tengah status tanggap darurat, belum memasuki tahap pemulihan. Proses belajar yang berlangsung sangat bergantung pada inisiatif sekolah dan guru, sementara dukungan sistemik masih perlu diperkuat.


MPD merekomendasikan agar penanganan pendidikan selama masa tanggap darurat mendapat perhatian serius, terutama percepatan pembersihan lumpur di sekolah yang belum dapat beroperasi. Selain itu, layanan pendidikan darurat yang telah berjalan perlu diperkuat melalui penyediaan ruang belajar sementara yang lebih layak, dukungan perlengkapan belajar, serta pendampingan psikososial bagi siswa dan guru.


Dalam situasi bencana, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai urusan akademik, tetapi juga sebagai bagian dari proses pemulihan anak-anak terdampak. Selama status tanggap darurat masih berlangsung, keberlanjutan proses belajar dinilai menjadi kunci agar anak-anak Aceh Tamiang tidak semakin tertinggal akibat banjir bandang.**(Kamalruzamal)

Komentar

Tampilkan

Terkini