Lampumerahnews.id
Jakarta— Memperingati Hari Kartini, Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta sekaligus aktivis perempuan Fahira Idris menegaskan, perempuan adalah kunci utama mewujudkan Indonesia Maju 2045. Tanpa pemberdayaan dan keterlibatan penuh perempuan, target besar menjadi negara maju dinilai sulit tercapai.
“Perempuan bukan sekadar bagian dari pembangunan, tapi penentu arah pembangunan. Menjadikan perempuan sebagai tumpuan Indonesia Maju 2045 adalah sebuah keniscayaan,” kata Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (21/4).
Fahira memaparkan enam alasan fundamental mengapa perempuan menjadi tumpuan masa depan bangsa:
Penggerak pembangunan inklusif
Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan terbukti menghasilkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok rentan. Ia menilai partisipasi perempuan di ruang-ruang strategis masih perlu terus ditingkatkan.
Tulang punggung ekonomi nasional
Perempuan mendominasi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Kontribusi mereka tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tapi juga menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional secara nyata.
Efek berlipat bagi kesejahteraan
Pemberdayaan perempuan berdampak langsung pada keluarga dan komunitas, bahkan memengaruhi kebijakan publik di tingkat lokal.
Daya lenting tinggi di masa krisis
Berbagai studi menunjukkan perempuan cepat beradaptasi dan berinovasi saat situasi sulit, termasuk saat pandemi. Ketangguhan ini menjadikan perempuan pilar penting ketahanan sosial dan ekonomi.
Investasi yang mengakselerasi pertumbuhan
Kajian global membuktikan penghapusan kesenjangan gender dapat mendongkrak PDB secara signifikan. Semakin besar partisipasi perempuan, semakin cepat laju pertumbuhan ekonomi.
Pembentuk generasi penerus
Sebagai ibu, perempuan memegang peran strategis dalam pendidikan, pengasuhan, dan pembentukan karakter generasi muda—fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.
Fahira mengakui masih banyak tantangan yang membelit perempuan Indonesia, mulai dari budaya patriarki, keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi, ketimpangan upah, hingga minimnya keterwakilan di sektor formal dan ruang pengambilan keputusan.
“Perempuan masih menghadapi beban ganda. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong penguatan kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan: peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, penguatan ekonomi perempuan, perluasan perlindungan sosial, serta peningkatan keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan.
Fahira menekankan pemberdayaan perempuan bukan sekadar isu perempuan, melainkan isu pembangunan bangsa yang menuntut kolaborasi lintas sektor.
“Momen Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan belum selesai. Jika kita ingin Indonesia maju pada 2045, pastikan perempuan maju hari ini. Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas dan peran perempuan saat ini,” pungkasnya.


