-->

TERKINI

Wagub DKI Resmikan SDGs Corner Museum Bahari Jakut

lampumerahnews
Minggu, 15 Februari 2026, 06.59 WIB Last Updated 2026-02-14T23:59:38Z

Lampumerahnews.id


Jakarta-Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, meresmikan Sustainable Development Goals (SDGs) Corner di Museum Bahari, Jakarta Utara, pada Sabtu (14/02/2026). 


Fasilitas ini dihadirkan sebagai ruang edukatif dan inklusif yang menyajikan tantangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sekaligus kisah kehidupan laut Indonesia.


SDGs Corner merupakan hasil sinergi Museum Bahari Jakarta dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations/UN) dalam menghadirkan ruang belajar kolaboratif yang mengajak publik memahami masa depan Indonesia melalui perspektif kemaritiman dan kehidupan pesisir.


“SDGs Corner menghadirkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai bagian dari keseharian masyarakat maritim. Ini adalah identitas Indonesia yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad,” ujarnya.


Wagub Rano menegaskan, Museum Bahari menjadi pengingat bahwa Jakarta tumbuh sebagai kota pesisir dan kota maritim. Laut, pelabuhan, serta masyarakat pesisir telah menjadi bagian penting dari jati diri Jakarta hingga saat ini. Namun, sebagai kota pesisir, Jakarta juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, kenaikan muka air laut, banjir rob, hingga ketahanan sosial masyarakat pesisir, termasuk perlindungan anak dan kelompok rentan.


“Tantangan tersebut menuntut arah pembangunan Jakarta yang berpihak pada prinsip keberlanjutan dan keadilan, sebagaimana semangat SDGs,” ungkap Wagub Rano.


Seiring upaya mendefinisikan kembali peran Jakarta sebagai kota global, komitmen terhadap SDGs dinilai semakin relevan. SDGs tidak hanya dimaknai sebagai 17 tujuan global, tetapi juga menjadi kerangka bersama untuk memastikan pembangunan yang inklusif serta memberi ruang setara bagi seluruh warga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai kebijakan Pemprov DKI Jakarta, antara lain program pangan bersubsidi, kartu layanan gratis bagi penyandang disabilitas, penguatan aksi iklim, serta perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).


Khusus di wilayah pesisir, Pemprov DKI Jakarta juga melaksanakan rehabilitasi mangrove dan terumbu karang, pembangunan tanggul pantai dan rumah susun pesisir, serta penguatan Program Kampung Iklim Pesisir sebagai respons nyata terhadap dampak perubahan iklim


Dalam konteks tersebut, kehadiran SDGs Corner di Museum Bahari menjadi wujud konkret untuk menghadirkan SDGs secara lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat melalui pendekatan edukatif dan atraktif. Dengan demikian, Museum Bahari tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan sejarah maritim, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran mengenai arah pembangunan masa depan yang berkelanjutan.


Sebagai bagian dari pendekatan edukatif tersebut, turut ditampilkan sesi storytelling Nawila yang dibawakan oleh Reda Gaudiamo. Kisah ini menjadi pengingat bahwa pembangunan berkelanjutan pada akhirnya berbicara tentang manusia, hak, harapan, dan masa depan yang lebih baik.


Dalam kesempatan itu, Wagub Rano juga menyampaikan apresiasi kepada UNIC Jakarta dan Museum Bahari Jakarta atas inisiatif yang berhasil menjembatani isu kehidupan masyarakat, keanekaragaman hayati laut, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga perubahan iklim, sehingga SDGs terasa dekat dan relevan bagi masyarakat.


“Komitmen bersama ini semakin menguatkan langkah Pemprov DKI Jakarta, terlebih setelah kami menerima penghargaan Indonesia SDGs Action Award Tahun 2025 sebagai Terbaik I Kategori Pemerintah Daerah Provinsi. Ini menjadi penyemangat untuk terus melangkah menuju target 2030,” urainya seraya berharap SDGs Corner dapat menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga internasional, institusi budaya, komunitas, dan masyarakat luas dalam mempercepat pencapaian SDGs.


Menutup sambutannya, Wagub Rano menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta. Menurutnya, Museum Bahari akan menjadi bagian penting dari pengembangan tersebut, sejalan dengan kerja sama Sister City antara Jakarta dan Rotterdam.


“Saat Kota Tua Jakarta dibangun dan ditata kembali, saya tidak ingin Museum Bahari berdiri sendiri. Museum ini harus menjadi bagian utuh dari penguatan identitas sejarah dan maritim Jakarta,” pungkasnya, 


(kipray)

Komentar

Tampilkan

Terkini