Lampumerahnews.id
JAKARTA – Menyambut bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari, semangat spiritual umat Muslim mulai meningkat. Dalam sebuah obrolan santai namun mendalam, Ustaz Zae Abu El- Hasan, yang juga aktif sebagai Humas di Kementerian Agama Jakarta Utara, membagikan pesan menyentuh mengenai persiapan batin dan fisik dalam menghadapi bulan penuh ampunan ini.
Ustadz Zae mengibaratkan Ramadan sebagai "Kawah Candradimuka", sebuah tempat penggemblengan diri bagi umat Islam. Ia menekankan bahwa persiapan yang paling utama bukanlah sekadar fisik, melainkan persiapan mental dan ilmu.
Menurut Ustadz Zae beribadah tanpa ilmu akan terasa hampa. Ia mengajak umat untuk kembali mempelajari fikih puasa, mulai dari makna sahur hingga rahasia di balik ibadah Tarawih.
"Jangan sampai kita ibadah tapi tidak tahu syariatnya. Persiapan mental ini penting agar ibadah kita betul-betul diterima di hadapan Allah," ujarnya.
Ia juga memberikan tips agar ibadah menjadi maksimal: anggaplah Ramadan tahun ini sebagai Ramadhan terakhir kita. Dengan perasaan tersebut, seseorang akan lebih serius dalam bersedekah, berpuasa, dan memperbaiki diri.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Zae juga menjelaskan betapa indahnya syariat Islam yang mengatur berbagai kondisi manusia:
Ibu Hamil dan Menyusui: Diberikan keringanan untuk tidak berpuasa jika khawatir akan kesehatan janin, dengan kompensasi menggantinya (qada) di waktu lain.
Anak-Anak: Ramadhan menjadi Syahrut Tamrin atau bulan latihan. Tidak perlu dipaksa sampai Magrib, yang terpenting adalah membangun kebiasaan sahur dan salat berjamaah sejak dini.
Mualaf: Ustadz Zae menekankan pentingnya menunjukkan sisi Rahman dan Rahim (kasih sayang) kepada saudara baru, tanpa memberikan tekanan ibadah yang memberatkan di awal proses mereka.
Ustadz Zea menggambarkan manusia selama 11 bulan ibarat ulat bulu yang kadang membawa keresahan bagi sesama. Namun, melalui "kepompong" Ramadhan selama 30 hari, manusia berkesempatan bertransformasi menjadi kupu-kupu yang indah dan disenangi semua orang saat Idulfitri nanti.
Terkait bau mulut orang berpuasa, Ustadz Zae memberikan perspektif yang menyejukkan. "Ramadhan berasal dari kata yang berarti panas membakar.
Bau mulut itu adalah tanda ada dosa-dosa yang sedang dibakar dalam tubuh kita. Syukuri itu sebagai bentuk pembersihan diri," pungkasnya.
Obrolan ini diakhiri dengan harapan agar seluruh umat Muslim dapat bertemu dengan bulan suci dalam keadaan sehat dan mampu meraih derajat ketakwaan yang tertinggi.


