Lampumerahnews.id
Jakarta – Mengisi sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadan, umat Muslim diingatkan untuk tidak melewatkan momentum malam Lailatul Qadar. Malam yang dijuluki sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi kesempatan langka bagi manusia untuk memperbaiki timbangan amal ibadahnya di akhirat kelak.
Dalam sebuah pemaparan santai namun mendalam, KH. Mawardi Abdul Gani Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jakarta Utara, menjelaskan sebuah analogi perhitungan umur manusia. Beliau menyoroti bagaimana perbandingan antara masa berbuat dosa dan masa berbuat kebaikan seringkali tidak seimbang selama hidup di dunia.
"Kalau kita hidup 60 tahun, kemudian kita berada pada keburukan 40 tahun, kemudian kebaikan kita cuma tersisa 20 tahun, maka otomatis kalau nanti ditimbang di mizan, itu amal ibadah kita akan jauh lebih sedikit daripada amal keburukan kita," ujar KH. Mawardi Abdul Gani saat ditemui di Kantor Kemenag Jakut, Rabu (25/2/2026).
Oleh karena itu, Lailatul Qadar hadir sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya untuk mengejar ketertinggalan amal tersebut. Berdasarkan perhitungan kalender, pahala beribadah di malam tersebut setara dengan beribadah selama lebih dari 80 tahun.
"Di malam itu, Allah janjikan siapa yang melakukan amal kebaikan di malam itu, Allah janjikan pahalanya lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan itu kalau dihitung itu sekitar 83 tahun. Inilah kesempatan kita untuk menebus, untuk mengimbangi selama sepanjang kita barangkali melakukan dosa," lanjutnya
Strategi "Bisnis" Ibadah
Selain membahas Lailatul Qadar, pemateri juga memberikan tips cerdas dalam memilih jenis ibadah di waktu-waktu tertentu. Beliau mengibaratkan pemilihan ibadah seperti menjalankan sebuah bisnis; seseorang tentu akan memilih investasi yang memberikan keuntungan atau laba paling besar.
Salah satu contoh yang disoroti adalah waktu antara Maghrib dan Isya. Meski membaca Al-Qur'an adalah perbuatan mulia, beliau mengutip pendapat sebagian ulama yang lebih menyarankan pengerjaan Shalat Sunnah Awabin di waktu tersebut karena keutamaan pahalanya yang sangat besar.
"Kalau bisnis mah kita mengambil bisnis yang untungannya gedean lah begitu. Ada yang untungnya 1.000, untungnya 10.000, tentu kita ambil untung yang 10.000. Shalat Sunnah Awabin itu dijelaskan dalam suatu hadis pahalanya itu sama dengan orang ibadah 12 tahun," jelasnya.
Menutup penjelasannya, KH. Mawardi Abdul Gani menekankan pentingnya manajemen waktu ibadah agar setiap detik yang dilalui di bulan Ramadan, terutama di sepuluh malam terakhir, memberikan dampak maksimal bagi tabungan akhirat.



fsppi