-->

TERKINI

147 Mahasiswa DKI Terancam DO, SIGAP Jakarta: Data KJMU Kacau, Ada Dugaan Oknum

lampumerahnews
Selasa, 25 Agustus 2026, 19.25 WIB Last Updated 2026-08-25T12:26:06Z

 

Lampumerahnews.id

JAKARTA — Gelombang kekecewaan kembali memuncak. Sebanyak 147 mahasiswa dan orang tua mengadu ke Sekretariat SIGAP Jakarta, Selasa (25/8/2026), menuntut kejelasan pencairan beasiswa KJMU (Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul) Pemprov DKI Jakarta. Tiga di antaranya disebut sudah terpaksa DO karena tak mampu membayar UKT.


Presidium SIGAP Jakarta, Sunarti, menyebut pihaknya menemukan "ketidakadilan nyata" dalam proses seleksi KJMU tahun ajaran 2025.


"Mereka mendaftar di 2025. Mayoritas ber-KTP DKI. Persyaratannya jelas: warga DKI dan keluarga tidak mampu. Itu saja. Tapi kenapa sekarang muncul aturan desil?" ujar Sunarti.


"Data BPS Dipertanyakan Marbot Masuk Desil 8, Anak ART Masuk Desil 10"


Sunarti menyoroti validasi data dari BPS yang dinilai tidak masuk akal. Ia mencontohkan kasus "Dewi", anak seorang pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah majikannya. 


"Orang tuanya ART, tinggal di tempat majikan. Kenapa desilnya tinggi? Masuk desil 5 sampai 10. Bagaimana BPS ini adil?" tanyanya.


Contoh lain, orang tua berprofesi marbot masjid yang gajinya sangat di bawah standar juga masuk desil 5-10. Yang lebih ironis, kata Sunarti, ada mahasiswa dari UIN Walisongo dengan desil 8 yang KJMU-nya sudah cair.


"Apa sebenarnya persyaratan yang pasti? Tuntutan kami bukan soal desil. Karena di 2025 desil belum dipakai. Yang kami tuntut hanya 2: domisili DKI dan benar-benar keluarga miskin," tegasnya.


'Diduga Ada Oknum Perdagangkan KJMU"


Sunarti menduga ada permainan di balik ketidakadilan ini. 


"Sebenarnya kita patut menduga KJMU itu juga diperdagangkan oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab. Ada oknum-oknum. Ini harus dibersihkan Gubernur," ujarnya.


Ia menggambarkan kondisi orang tua pendaftar: buruh harian lepas, ojek, kuli bangunan. 


"Mereka mikir besok makan apa, anaknya ada ongkos apa enggak. Tapi UKT tetap ditagih. Kalau tidak segera ditetapkan, jangan salahkan rakyat kalau kepung DKI," ancamnya.


"SIGAP Jakarta menyebutkan ada 147 nama yang harus segera ditetapkan"


Senada, Kornas GeberBUMN sekaligus Presidium SIGAP Jakarta, Achmad Ismail yang di sapa Bang Ais mendesak Gubernur DKI segera menetapkan 147 nama yang sudah diverifikasi SIGAP.


"Kami sudah lakukan verifikasi berdasarkan juklak yang berbasis pada Pergubnya. Tidak ada alasan lagi. Data mereka sudah terinput di Pemda. Segera tetapkan untuk tahun ajaran 2026," cecar Bang Ais .


Ia menyebut secara APBD masih memungkinkan. Slot penerima KJMU 2026 tahap kedua masih tersisa sekitar 3.000 dari kuota 19.000. 


"Minimal 147 orang ini masuk. Gubernur harus punya kepedulian/awareness tinggi terhadap pendidikan kalau Jakarta mau maju," tegasnya.


"Kesaksian Mahasiswa menyampaikan pekerjaan ayahnya yang seorang Buruh dan keteteran bayar UKT"


Anggun Cahya Amelia dari UNJ dan Salman dari UPN Veteran Jakarta turut bersuara. Anggun menyebut banyak anggota forumnya yang orang tuanya sudah wafat atau buruh harian, tapi terdampak ketidakvalidan data.


"Kami semua mantan penerima KJP dari SD-SMA. Kami contoh nyata ketidakvalidan validasi ini," terang Anggun dengan nada lirih 


Salman menambahkan, ayahnya buruh dengan 3 tanggungan. 


"Untuk UKT dan biaya hidup agak berat. Ayah saya keteteran," ujarnya.


SIGAP Jakarta menutup dengan desakan: hentikan alasan klasik, evaluasi tim, dan segera cairkan KJMU agar tidak ada lagi mahasiswa DKI yang DO karena kemiskinan.

Komentar

Tampilkan

Terkini