Lampumerahnews.id
Jakarta - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, publik kembali disuguhi panorama yang sudah akrab: bursa kandidat Ketua Umum, kalkulasi dukungan PWNU dan PCNU, serta spekulasi siapa di belakang siapa. Dinamika itu sah, bahkan sehat bagi organisasi sebesar NU.
Namun di tengah riuhnya arena kontestasi elite, ada suara lain yang layak didengar. Ia tidak datang dari koridor Kramat Raya atau pesantren besar di Jawa Timur. Suara itu muncul dari sebuah pesantren di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dari komunitas yang jarang masuk radar diskursus ke-NU-an nasional: orang-orang Betawi yang memilih ber-NU dengan cara mereka sendiri.
Lahir dari Keresahan, Bukan Ambisi Politik
Pada 24 Agustus 2026, sejumlah kiai, tokoh masyarakat, dan pemuda Betawi Nahdliyin berkumpul di Pondok Pesantren Shilaturahmi 99, Jagakarsa, di bawah pimpinan KH Hasanuddin, M.A. Di sanalah dideklarasikan terbentuknya Forum Betawi Nahdliyin.
Ini bukan forum politik. Bukan pula ormas baru yang hendak berebut kursi. Forum ini lahir dari keresahan dan harapan sederhana: memastikan Muktamar ke-35 NU berjalan baik, bermartabat, dan menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar melayani organisasi.
Secara eksplisit, Forum mendukung pernyataan KH Ma'ruf Amin agar Muktamar menjadi ruang islah. Lebih dari pernyataan sikap, mereka juga berencana menggelar tahlil, tahmid, dan zikir di Jakarta selama Muktamar berlangsung di Tambakberas. Ketika yang lain sibuk menghitung suara, forum ini memilih mengirimkan doa.
Muktamar di Tengah Dinamika Berat
Keresahan itu beralasan. Muktamar ke-35 yang dijadwalkan 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, hadir di tengah dinamika internal yang tidak ringan. Setidaknya 6–7 nama telah mencuat sebagai kandidat Ketua Umum PBNU, sementara mekanisme pemilihan belum final. Konfigurasi dukungan masih cair.
Muncul kekhawatiran soal politik transaksional, bisik-bisik soal “restu Istana”, hingga kritik bahwa pengurus yang seharusnya memikirkan kemajuan organisasi justru sibuk memperebutkan jabatan.
Dalam kondisi inilah sejumlah kiai sepuh “turun gunung” menyampaikan pesan moral. KH Ma'ruf Amin, Mustasyar PBNU, menjadi salah satu suara paling lantang. Dalam program Menjadi Indonesia, beliau menegaskan kepemimpinan NU harus menjalankan fungsi al-islah wal-islah: menyatukan potensi yang berselisih sekaligus memperbaiki arah gerakan agar tetap sesuai fikrah Nahdliyah. Ia juga mendorong nahdliyin untuk ber-NU secara ala basyirah — berbasis pemahaman dan keyakinan, bukan sekadar ikut-ikutan.
Pesan ini menjadi pijakan penting agar Muktamar menjadi ruang islah, bukan sekadar arena perebutan posisi.
Betawi Bertemu NU: Partisipasi Bukan Politik Identitas
Terbentuknya Forum Betawi Nahdliyin menarik karena menjawab pertanyaan itu dari arah yang tidak biasa. Ketika bicara NU, bayangan publik hampir selalu Jawa: Jombang, Kediri, Cirebon, Pekalongan. Jakarta, apalagi komunitas Betawi, jarang masuk dalam perbincangan.
Padahal relasi Betawi dengan tradisi pesantren dan ke-NU-an sudah lama. Banyak pesantren di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang secara kultural adalah bagian dari ekosistem Nahdliyin, meski identitas ke-NU-annya tidak selalu diartikulasikan secara organisasional.
Forum ini mengubah pola itu. Ia mempertemukan identitas Betawi dan identitas Nahdliyin, bukan untuk kepentingan elektoral atau mobilisasi massa, tetapi untuk menyampaikan sikap terhadap masa depan organisasi.
Ini bukan identity politics sempit yang menuntut jatah kekuasaan berbasis etnis. Ini adalah partisipasi sipil berbasis identitas: komunitas lokal yang menggunakan kedekatannya dengan tradisi Nahdliyah sebagai pintu masuk untuk ikut dalam tata kelola organisasi nasional.
Yang membedakan: mereka melakukannya dari pesantren dan masyarakat kultural Kaum Betawi, bukan dari jalanan. Dalam imaji publik, orang Betawi sering diasosiasikan dengan mobilisasi fisik dan patronase politik. Forum Betawi Nahdliyin memilih jalur berbeda: diskursus, deklarasi sikap, dan penguatan jejaring berbasis keilmuan keagamaan dan kebudayaan.
Rencana menggelar tahlil dan zikir selama Muktamar berlangsung adalah praktik konkret dari ber-NU ala basyirah: bergerak bukan karena disuruh, tapi karena paham ada yang perlu dijaga.
NU Milik Semua
Muktamar ke-35 pada akhirnya akan diputuskan di Tambakberas oleh para muktamirin PWNU dan PCNU. Namun suara-suara seperti Forum Betawi Nahdliyin mengingatkan satu hal yang kerap terlupa di tengah hiruk-pikuk kontestasi: NU bukan hanya milik mereka yang duduk di meja Muktamar.
NU juga milik mereka yang duduk di serambi pesantren kecil di Jagakarsa. Mereka yang memilih basyirah ketimbang bisyarah. Yang menolak diam bukan karena ingin berkuasa, tapi karena merasa memiliki.
Muktamar yang baik bukan hanya yang menghasilkan pemenang. Tapi yang menghasilkan NU yang bergerak lagi.
Penulis " H. Masykur Isnan, S.H., M.H


