Lampumerahnews.id
Jakarta,- Rekonsiliasi pasca-islah di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) akan memasuki babak penting. Kebersamaan seluruh unsur NU akan diuji dan dipertontonkan secara terbuka pada puncak peringatan Harlah Ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda kesungguhan NU dalam merawat persatuan internal demi masa depan organisasi dan bangsa.
Islah dan rekonsiliasi yang berhasil dicapai, khususnya antara jajaran Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, membawa dampak positif yang signifikan. Ketegangan internal yang sempat mengemuka perlahan mencair, digantikan semangat kebersamaan dan tanggung jawab kolektif. Kondisi ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas organisasi, sekaligus memperkuat kepercayaan umat terhadap kepemimpinan NU.
Lebih dari sekadar meredam perbedaan, islah ini menjadi momentum krusial untuk mengembalikan harmoni, memperbaiki komunikasi, dan menjaga marwah NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, persatuan internal NU adalah kunci agar organisasi tetap mampu menjalankan peran strategisnya di tengah umat dan bangsa.
Peringatan Harlah Ke-100 NU tahun ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Tema ini menegaskan visi besar NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban. Sebuah komitmen yang menempatkan NU sebagai penjaga persatuan, penguat nilai-nilai kebangsaan, sekaligus pelopor pembangunan peradaban yang adil, beradab, dan bermartabat.
Kehadiran Presiden Republik Indonesia dalam puncak peringatan harlah diharapkan semakin memperkuat sinergi antara NU dan pemerintah. Sinergi ini penting dalam mengawal perjalanan bangsa ke depan, terutama dalam menjaga keutuhan NKRI, memperkokoh demokrasi, serta menghadapi tantangan global yang berdampak langsung pada kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Satu abad perjalanan NU merupakan ruang refleksi atas kontribusi panjang organisasi ini dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan Indonesia. Sejak kelahirannya, NU merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan kebangkitan nasional menuju Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. NU juga tercatat sebagai salah satu pilar pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kini, di usia satu abad, NU memikul tugas historis untuk kembali menyadarkan bangsa agar berpijak pada jati dirinya, kembali pada nilai-nilai luhur, dan meneguhkan komitmen kebangsaan sesuai Khittah 1945. NU diharapkan tetap menjadi penuntun moral, penyejuk umat, dan penjaga keseimbangan antara agama dan negara.
Secara keseluruhan, islah dan rekonsiliasi ini memastikan NU tetap tegak sebagai rumah besar umat, benteng martabat ulama, serta penjaga nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dari Istora Senayan, NU tidak hanya merayakan usia, tetapi juga menegaskan kembali perannya dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang mulia.
Oleh : Masdjo Arifin (Wakil Ketua Lesbumi PWNU DKI Jakarta)


