Lampumerahnews.id
Merauke -Ratusan Nahdliyin memadati halaman Masjid Raya Al-Aqsha Merauke pada Jumat (30/01/2026) sore, berkumpul untuk mengikuti Kirab dan Napak Tilas Nahdlatul Ulama (NU) dalam rangka memperingati Harlah NU ke-103. Acara yang mengusung tema "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia" ini diawali dengan ziarah kubur dan santunan anak yatim, sebelum puncaknya pada pawai akbar yang melintasi ikon-ikon pesantren di kota ini.
Wakil Bupati Merauke, Dr. Fauzun Nihayah, S.H.I., M.H., secara langsung melepas peserta kirab yang membawa replika tongkat dan tasbih, simbol restu, kedisiplinan, zikir, dan perjuangan para ulama pendiri NU.
"Kirab ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi kirab nilai," tegas Fauzun di Masjid Raya Al-Aqsha, Merauke, (30/01/2026).
Ia menekankan pentingnya nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Insaniyah yang diajarkan NU, terutama di Merauke sebagai gerbang timur Indonesia.
Prosesi inti kirab dimulai dengan penyerahan replika tongkat dan tasbih dari Ketua PWNU Provinsi Papua Selatan, KH. Muhammad Arifin, kepada Duta Kirab Harlah NU ke-103, Ustadz Haji Poniran, S.Pd.I., M.M. Replika ini kemudian diarak secara estafet dari Pondok Pesantren An-Najah menuju Pondok Pesantren DDI Munawaroh, sebelum akhirnya kembali ke kantor PWNU Provinsi Papua Selatan.
"Ini adalah pesan bahwa tongkat pada kita semua yang ada di Papua Selatan, semoga unsur-unsur (kebaikan) akan terwujud, mendapatkan restu dari Mbah Kholil Bangkalan, dari Mbah Hasyim Asy'ari," tutur Kiai Arifin saat menyerahkan simbol tersebut.
Ia menambahkan, penyerahan tongkat ini melambangkan restu dari guru kepada murid, sebagai fondasi berdirinya organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia.
KH. Arifin berharap, di usia ke-103 tahun ini, NU dapat terus mendapatkan keberkahan dan rahmat, serta rida dari para guru dan pendiri jam'iyah.
"Semoga yang kita lakukan ini bisa menambah restu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga kita yang hadir semua, warga umat Islam dan masuk ke dalam golongan Nahdlatul Ulama sampai akhir kelak," harapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Fauzun Nihayah mengapresiasi peran NU dalam menjaga toleransi dan persatuan di Merauke.
"Bagaimana di dalam Islam Nusantara, kita terus bisa betul-betul menggaungkan nilai-nilai yang telah diajarkan, sehingga apa yang menjadi nilai-nilai yang kita pegang di dalam Ahlussunnah wal Jamaah ini juga bisa sejalan dengan pembangunan yang ada di Kabupaten Merauke," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah membutuhkan sinergi dengan ormas keagamaan seperti NU untuk meningkatkan kualitas iman dan sumber daya manusia masyarakat.
Kirab ini menjadi simbol semangat merawat jagat, membangun peradaban, dan memperkokoh persaudaraan warga Nahdliyin, khususnya di ujung timur Indonesia.
(Rizki)


