-->

TERKINI

Bentengi Sekolah dari HIV, KPA Merauke Lantik Duta Sebaya KomPas Edukasi sesama kawan dinilai efektif tekan penularan infeksi

lampumerahnews
Rabu, 21 Oktober 2026, 09.25 WIB Last Updated 2026-10-21T02:26:05Z

 

Lampumerahnews.id

MERAUKE– Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Merauke resmi mengukuhkan puluhan pelajar menjadi duta Komisi Penanggulangan AIDS Sekolah (KomPas) setelah merampungkan pelatihan intensif dua hari di Ruang Aula KPA pada Selasa, (20/09/2026). Kader muda ini disiapkan menjadi garda terdepan untuk menghalau penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta Infeksi Menular Seksual (IMS) di lingkungan pendidikan.


Pembekalan tersebut menghadirkan perwakilan dari lima madrasah dan sekolah kejuruan, yakni SMK Negeri 3, SMK Santo Antonius, MAS An-najjah Yamra, SMAS Plus Muhammadiyah, serta MAS DDI Lampu Satu.


Sekretaris KPA Kabupaten Merauke Sudarmi, S.H menilai keberadaan edukator sebaya memegang peran sentral dalam memutus mata rantai penularan di kalangan remaja. 


"Dengan dibukanya pelatihan KomPas, harapan kami agar siswa-siswi bisa menjadi agent educator dan membawa bekal untuk teman-teman sekolah untuk selalu peduli dan bisa menjadi penanggulangan HIV dan AIDS di sekolah," ujar Sudarmi.


Sebabnya, remaja cenderung jauh lebih terbuka berdiskusi mengenai kesehatan reproduksi dengan kawan seumuran ketimbang figur otoritas. Lewat pembekalan ini, para siswa memikul tiga tugas pokok: menjalankan edukasi sebaya (peer education), memelopori upaya pencegahan sejak dini, serta menyambung sosialisasi hidup sehat dari KPA Merauke ke ruang-ruang kelas.


Tantangannya memang nyata.


Berdasarkan catatan kesehatan per Agustus 2026 di Kabupaten Merauke, akumulasi kasus HIV menembus 3.229 temuan dengan kelompok perempuan mendominasi sebanyak 1.696 kasus dibanding laki-laki yang tercatat 1.533 kasus. Sebagian besar infeksi menyerang warga usia produktif rentang 25–49 tahun dan kalangan muda berumur 15–24 tahun.


Dalam sesi materi, Dr. Herard Manuputi mengupas tuntas kekeliruan masyarakat seputar IMS, HIV, dan AIDS. 


Dr. Herard menjelaskan HIV merupakan virus perusak pertahanan tubuh, sementara AIDS adalah kumpulan gejala kritis yang muncul saat imunitas sudah lumpuh. Jalur infeksinya murni melalui tiga cairan: darah, sperma, dan cairan vagina yang meresap melalui luka terbuka maupun hubungan seks tanpa pengaman.


Meski begitu, virus tidak bisa menyebar lewat gigitan nyamuk, jabat tangan, maupun perlengkapan makan bersama. 


Dr. Herard mengarahkan pencegahan lewat perilaku setia pada pasangan serta menjauhi jarum suntik bekas. Pengidap yang patuh menjalani terapi Antiretroviral (ARV) juga dipastikan dapat terus beraktivitas normal, mengingat obat tersebut mampu menekan perbanyakan virus hingga ke taraf tak terdeteksi.


Suasana lokakarya dirancang interaktif agar materi medis tidak terasa menjemukan.


Pengelola Program dan Monev Epainetus Wuryanto bersama Susi Simatauw mendampingi peserta membedah materi komunikasi efektif, penanganan stigma negatif, dan perumusan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Para siswa juga diajak mendengarkan langsung kesaksian orang dengan HIV (ODHIV) guna meruntuhkan perlakuan diskriminatif dalam pergaulan sehari-hari.


Penguasaan materi dipantau ketat. Panitia menggelar tes awal (pre-test) di hari pertama serta tes akhir (post-test) sebelum penutupan guna menakar lonjakan wawasan siswa.


Kegiatan rampung lewat penyerahan sertifikat dan pengesahan seluruh peserta sebagai duta KomPas Merauke. 


(A)

Komentar

Tampilkan

Terkini