Lampumerahnews.id
ACEH TAMIANG — Akses warga Kampung Sekerak Kiri dan Kampung Bandar Mahligai, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, kini lebih terbuka setelah Jembatan Perintis Garuda sepanjang 240 meter mulai digunakan.
Jembatan yang menghubungkan dua kampung tersebut menjadi akses penting bagi mobilitas warga, termasuk aktivitas pendidikan, kesehatan dan pengangkutan hasil pertanian yang sebelumnya mengandalkan penyeberangan sungai menggunakan perahu atau getek.
Jembatan Perintis Garuda diresmikan Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM) Mayjen TNI Joko Hadi Susilo, S.IP., pada Rabu (26/8/2026).
Kehadiran jembatan tersebut diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang bagi aktivitas ekonomi warga di wilayah pedalaman Kecamatan Sekerak.
Pangdam IM mengatakan pembangunan jembatan merupakan hasil kerja bersama TNI, pemerintah daerah, instansi terkait dan masyarakat.
“Semangat gotong royong dan kemanunggalan TNI, seluruh instansi, dan juga seluruh komponen yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang ini menjadikan kita dapat menjawab dan menghadirkan solusi atas kebutuhan masyarakat. Jembatan ini tidak hanya menjadi penghubung harapan aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan silaturahmi antar warga, tetapi juga diharapkan dapat memberikan kemudahan akses, memperlancar mobilitas masyarakat serta hasil pertanian, serta menjadi pendorong bagi tumbuhnya kesejahteraan masyarakat,” ujar Joko Hadi Susilo saat peresmian.
Jembatan sepanjang 240 meter tersebut disebut sebagai jembatan gantung perintis terpanjang di Indonesia. Infrastruktur itu menjadi salah satu upaya membuka akses wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan konektivitas.
Dandim 0117/Aceh Tamiang Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, S.Sos., M.M., mengatakan jembatan tersebut memberikan akses yang lebih aman bagi masyarakat yang sebelumnya harus menyeberangi sungai menggunakan perahu atau getek.
“Pembangunan jembatan gantung Perintis Garuda ini merupakan wujud komitmen nyata TNI AD dalam menjamin keselamatan serta memulihkan konektivitas antardesa di wilayah teritorial kami. Dengan terbangunnya akses penghubung antara Kampung Sekerak Kiri dan Bandar Mahligai ini, kami bersyukur aktivitas warga yang sebelumnya harus bertaruh nyawa menggunakan perahu atau getek kini bisa berjalan dengan jauh lebih aman, lancar, dan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi kerakyatan di Kecamatan Sekerak,” ungkap Raden Subhi.
Bagi warga, perubahan paling terasa adalah kemudahan menyeberang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Abdul Halim (47), warga Kampung Sekerak Kiri, mengatakan selama ini warga menghadapi kesulitan ketika harus menyeberang sungai, termasuk saat membawa hasil pertanian ke wilayah seberang.
“Kami mewakili warga sangat bersyukur dan berterima kasih sekali dengan adanya Jembatan Perintis Garuda ini. Selama ini untuk beraktivitas, menyeberang sungai, atau membawa hasil pertanian ke seberang cukup sulit dan penuh risiko. Dengan adanya jembatan sepanjang 240 meter ini, mobilitas kami jadi jauh lebih mudah, anak-anak sekolah juga aman, dan roda ekonomi kampung kami sangat terbantu,” ungkap Abdul Halim.
Selain Jembatan Perintis Garuda, pembangunan infrastruktur penghubung juga dilakukan di sejumlah wilayah Aceh.
Pangdam IM menyebut hingga saat ini terdapat 270 titik jembatan yang telah diselesaikan di seluruh Aceh oleh jajaran TNI AD. Jenisnya meliputi jembatan perintis, jembatan Bailey, jembatan Aramco dan jembatan gantung.
Khusus di Aceh Tamiang, terdapat 20 titik jembatan yang telah dan sedang dikerjakan. Rinciannya tiga jembatan perintis, dengan dua telah selesai dan satu masih dalam pengerjaan; tiga jembatan Aramco; satu jembatan Bailey; serta 13 jembatan beton, dengan lima titik selesai dan delapan lainnya masih dalam pengerjaan.
Pangdam IM meminta masyarakat menjaga dan merawat Jembatan Perintis Garuda sebagai aset bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kini, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan jembatan tetap berfungsi, tetapi juga bagaimana akses baru tersebut benar-benar mendorong kegiatan ekonomi, pendidikan dan pelayanan dasar bagi warga Sekerak Kiri dan Bandar Mahligai.
Sebab, bagi masyarakat yang sebelumnya bergantung pada penyeberangan sungai, nilai sebuah jembatan bukan semata panjang bentangnya, melainkan seberapa besar perubahan yang dirasakan setelah akses tersebut tersedia.
.(Kamalruzamal)


