Lampumerahnews.id
JAKARTA – Seorang balita berusia 3 tahun bernama Almarhum Yosa alias Ocha meninggal dunia setelah terperosok ke lubang pengecoran proyek pembangunan lapangan multifungsi di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, sekitar pukul 23.50 WIB , pada 27 Juni 2026 .
Kronologi Anak Masuk Area Proyek yang Terbuka
Berdasarkan keterangan ayah korban, Abdul Basit , kejadian terjadi saat ia dan istrinya Herlia bekerja hingga larut malam. Basit buruh tambal ban, sementara istrinya berjualan es teh untuk menghidupi 4 anaknya.
Sebelum salat Isya, Basit berpesan agar anak-anak bermain di sekitar pasir dan tidak jauh-jauh. Saat ia ke toilet, terdengar teriakan minta tolong. Yosa diketahui sudah masuk ke lubang proyek berisi air.
Warga dan team Damkar segera mengevakuasi. Kakak korban " Bondan, sempat turun karena tubuhnya muat, namun nyawa ocha tidak tertolong.
Diketahui ini bukan kejadian pertama. Sunarti, Ketua Umum Serikat Buruh SBSI 92 yang mendampingi keluarga, menyebut sebelumnya ada anak usia 10 tahun yang juga jatuh ke lubang yang sama namun selamat karena ditolong teman.
" Sebelumnya sudah ada anak usia kurang lebih 10 Tahun yang terperosok di lobang itu juga , Alhamdulillah selamat di tolong oleh rekan-rekannya , ini kan berarti proyek minim safety dan pengawasan, selain itu area proyek tidak dipagari, lubang galian dibiarkan terbuka, tidak ada petugas jaga malam, dan tidak ada plang kontraktor , hanya ada tulisan: "Mohon doa dan dukungannya untuk pembuatan lapangan multifungsi" ungkap Sunarti saat mengunjungi kediaman rumah duka .(30/6).
" Jalas- jelas pengembang dinilai lalai karena tidak evaluasi setelah kejadian pertama. Sampai sekarang belum ada pihak pengembang yang datang takziah ke rumah duka , hanya diwakili kelurahan," kata Sunarti dengan rasa sesal .
" Jangan bilang si orang tua teledor , mereka ini terpaksa kerja keras hingga larut malam demi menghidupi 4 orang anak , si ayah sebagai tempat tukang tambal ban dan ibu nya jualan es teh , jangan malah salahkan orang tua si korban," tegasnya.
Senada dengan Sunarti, Basit ayah almarhum Yosa juga menyampaikan agar pihak pengembang ada itikad baik dengan keluarga.
" Harus nya itikad baik , pihak pengembang datang lah ke keluarga kami , bertakziah dan silahturahmi, kami pun tidak menuntut apa-apa , tapi adanya perhatian dari pihak pengembang, nyawa anak kami pun tidak dapat di tukar dengan rupiah , dan saya sebagai ayah almarhum mengucapkan mengapresiasi ke Damkar, Polda, dan warga yang cepat membantu evakuasi , namun justru pihak pengembang tidak ada yang menyampaikan empati langsung ke kami sampai hari ini." Terang Basit .
Sunarti desak semua pihak duduk bersama agar pihak keluarga korban bisa melanjutkan kehidupan nya .
"Kami tidak semata-mata minta uang. Kami minta pengembang datang, minta maaf, dan perbaiki SOP keselamatan. Jangan sampai ada korban lagi , selain itu saya ingin menyampaikan kepada pak Gubernur , segera evaluasi kontraktor dan membenahi ruang bermain anak yang aman, mengingat Jakarta krisis ruang publik , dan saya minta agar semua pihak duduk bersama , selesaikan masalah ini agar keluarga korban dapat menjalankan kehidupan nya kembali." Pungkasnya.


