Lampumerahnews.id
Aceh Tamiang – Di tengah pelaksanaan program revitalisasi dan optimalisasi lahan sawah pascabanjir yang didanai pemerintah pusat melalui Satgas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR), ratusan petani di empat kampung di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, terpaksa bergotong royong membersihkan saluran irigasi secara swadaya agar dapat memasuki musim tanam tepat waktu.
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Anggota DPRK Aceh Tamiang, Jamil Hasan. Politisi PAN itu menilai masih terdapat kebutuhan mendesak petani yang belum terjangkau secara optimal dalam pelaksanaan program pemulihan sektor pertanian pascabanjir.
Menurut Jamil, petani di Kampung Sungai Kuruk I, Sungai Kuruk II, Sungai Kuruk III dan Muka Sungai Kuruk harus turun langsung membersihkan sedimentasi lumpur yang menyumbat saluran air persawahan. Padahal, saat ini pemerintah sedang menjalankan program rehabilitasi dan optimalisasi lahan sawah terdampak banjir melalui pola swakelola kelompok tani.
"Kami mengapresiasi program revitalisasi sawah yang sedang berjalan. Namun fakta bahwa petani di empat kampung harus bergotong royong secara swadaya membersihkan saluran irigasi menunjukkan masih ada kebutuhan lapangan yang belum terjangkau secara optimal oleh program tersebut," kata Jamil Hasan, Jumat (19/6).
Ia menegaskan, yang menjadi ukuran keberhasilan program bukan hanya besarnya anggaran atau luas lahan yang menjadi target rehabilitasi, tetapi sejauh mana petani dapat kembali mengolah sawahnya tanpa terkendala pasokan air.
"Kalau petani bergerak sendiri karena khawatir kehilangan musim tanam, maka ini harus menjadi bahan evaluasi. Program yang dibiayai negara harus mampu menjawab kebutuhan paling mendesak petani, terutama terkait akses air ke sawah," ujarnya.
Keterangan Jamil dibenarkan oleh salah seorang petani Kampung Sungai Kuruk II, Zainal. Ia mengatakan kegiatan gotong royong pembersihan saluran irigasi dilakukan secara serentak pada akhir Mei lalu oleh petani dari empat kampung yang memiliki jaringan aliran air yang saling terhubung.
Menurutnya, areal persawahan di Sungai Kuruk II yang bergantung pada saluran tersebut mencapai sekitar 82 hektare. Sementara jika digabungkan dengan Sungai Kuruk I, Sungai Kuruk III dan Muka Sungai Kuruk, luas areal yang terhubung diperkirakan melebihi 200 hektare.
"Karena saluran airnya terhubung, kami sama-sama membersihkan bagian yang tertutup lumpur supaya air bisa kembali mengalir ke sawah. Alhamdulillah sekarang sudah selesai dikerjakan," kata Zainal.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan menyatakan pemulihan sektor pertanian pascabanjir terus berjalan. Dalam siaran pers yang diterbitkan pada 16 Juni 2026, pemerintah menyebut program bantuan irigasi pompa disiapkan pada 70 titik untuk mendukung produktivitas lahan sawah yang telah direhabilitasi.
Pemerintah juga menjelaskan bahwa penanganan lahan rusak sedang dilakukan oleh Kodim 0117/Aceh Tamiang dengan target 712 hektare. Hingga 14 Juni 2026, realisasi pembersihan telah mencapai 428,28 hektare atau 60,15 persen dari target.
Sementara untuk lahan kategori rusak ringan, rehabilitasi dilakukan melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah) dengan target 1.961 hektare yang dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan pertanian pascabanjir yang didukung pendanaan pemerintah pusat melalui Satgas PRR.
Meski demikian, Jamil menilai pelaksanaan program perlu terus dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan merata oleh petani di seluruh wilayah terdampak.
"Jangan sampai target dan progres berjalan baik di atas kertas, tetapi di lapangan petani masih harus menanggung sendiri pekerjaan yang sangat mendesak agar sawah mereka bisa kembali ditanami. Yang paling penting adalah memastikan petani tidak kehilangan musim tanam dan produksi pangan daerah dapat segera pulih," pungkasnya.
(Kamalruzamal)


