Lampumerahnews.id
JAKARTA– Gerak Maju Rakyat Indonesia GEMARINDO angkat suara menanggapi pernyataan Tiyo Ardianto , dia menegaskan: kritik dalam demokrasi boleh, tapi jangan bergeser jadi provokasi atau serangan personal yang memecah belah masyarakat.
Kritik Boleh, Tapi Harus Bertanggung Jawab
Petrodes Mega MS Keliduanb, Ketua Umum Pengurus Nasional PN GEMARINDO, menyatakan kebebasan berpendapat adalah hak konstitusional warga negara. Namun hak itu harus dijalankan dengan etika, data akurat, dan argumen konstruktif.
"Demokrasi memang membutuhkan kritik, tetapi kritik juga membutuhkan argumentasi yang kuat, data yang utuh, dan bahasa yang mencerminkan intelektualitas," tegas Mega.
GEMARINDO menilai kritik sehat harus mengarah ke kebijakan publik dan disertai gagasan alternatif. Kritik yang isinya sindiran, ejekan, atau serangan pribadi dinilai tak memberi manfaat bagi masyarakat.
Soroti Serangan Personal ke Presiden Prabowo
Organisasi ini menyoroti sejumlah pernyataan Tiyo Ardianto yang dinilai sudah bergeser dari substansi kebijakan ke ranah personal Presiden RI Prabowo Subianto . Menurut GEMARINDO, hal itu berpotensi mencederai etika komunikasi politik dan memperkeruh suasana kebangsaan.
"Kritik yang baik seharusnya menawarkan solusi, memberikan alternatif kebijakan, dan menghadirkan jalan keluar. Bukan hanya melontarkan sindiran yang dapat menimbulkan perpecahan," tegas Mega didampingi Pengurus Nasional GEMARINDO.
Tolak Ruang Provokatif, Jaga Persatuan
Atas dasar itu, GEMARINDO menyatakan menolak kegiatan yang berpotensi jadi ruang penyebaran narasi provokatif dan memperuncing polarisasi.
Sikap ini, kata Mega, bukan bentuk anti-kritik. Tapi upaya menjaga persatuan, ketertiban, dan kondusivitas daerah.
"GEMARINDO berharap ruang demokrasi tetap berjalan sehat dengan mengedepankan dialog, adu gagasan, dan penyampaian kritik yang beretika. Indonesia harus tetap damai dan terbuka pada pandangan berbeda, tanpa narasi yang memecah belah masyarakat," tutupnya.


