Lampumerahnews.id
Merauke - Memasuki usia ke-22 tahun, Paguyuban Karesidenan Keluarga Pati (K3P) Merauke tidak menggelar pesta perayaan yang berlebihan. Mereka justru merajut kepedulian melalui jalur pengabdian masyarakat. Paguyuban ini tengah bersiap memfasilitasi khitanan massal secara cuma-cuma bagi anak-anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu di sekitar wilayah Papua Selatan.
Proses penyisiran data dari kampung ke kampung saat ini mulai berjalan guna memastikan kuota 30 anak terpenuhi dengan tepat sasaran. Menariknya, aksi kemanusiaan ini mendobrak sekat-sekat keyakinan. Panitia menjamin bahwa anak-anak dari keluarga non-Muslim berhak mendapatkan pelayanan medis yang setara. Usai dikhitan, setiap peserta juga akan diberikan apresiasi tambahan berupa pakaian ibadah dan sarung.
"Kriterianya itu memang tepat sasaran, anak kurang mampu dan yatim piatu, serta untuk non-Muslim juga kita akan layani tanpa pembedaan," jelas Ketua K3P Merauke, Sertu Agus Sulistiyo di Merauke, Minggu, (21/06/2026).
Menyangkut agenda pelaksanaan, Agus memastikan kegiatan puncak akan dieksekusi pada penghujung Agustus mendatang. Area kediaman Haji Syamsuddin yang berlokasi di kawasan Semangga Jaya telah dipersiapkan sebagai pusat operasi bakti sosial tersebut.
Sementara itu, di luar urusan eksternal, momen pertambahan usia ini turut dimanfaatkan untuk merapikan barisan internal paguyuban. K3P Merauke kini memprioritaskan pemanfaatan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang terintegrasi langsung dengan Himpunan Keluarga Jawa Sunda Madura (HKJSM).
Identitas resmi ini dirancang layaknya jaring pengaman sosial, di mana anggota yang memegangnya akan mendapatkan perhatian khusus saat tertimpa musibah sakit, sekaligus membuka peluang kompensasi dari mitra-mitra usaha paguyuban ke depannya.
Lebih jauh, visi K3P yang mewadahi warga perantauan asal Pati, Kudus, Jepara, Rembang, Blora, dan Grobogan ini membentang melampaui urusan kelompoknya sendiri. Mereka membawa misi besar untuk menjaga stabilitas sosial di tanah rantau.
"Kita memupuk kebersamaan seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tanpa memandang ras, suku, atau golongan, agar kita saling bergandengan tangan dan tetap rukun,"tutur Agus menutup perbincangan
(Rizky)


