Lampumerahnews.id
Jakarta – Dewan Pembina OIC Youth Indonesia, Beni Pramula menyampaikan orasi kebudayaan yang sarat pesan perdamaian dalam acara Iftar Gathering: Strengthening Connectivity and Values-Based Smart Power for Tolerance and Harmony in the Islamic World. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Lantai Dasar Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
Acara ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Azerbaijan untuk Republik Indonesia, OIC Youth Indonesia, dan Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Ramil Rzayev, Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin, serta Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita.
Dalam pidato bertajuk “Harmony Amidst the Fragments: The Youth as the Architect of Peace”, Beni menyoroti kondisi dunia yang menurutnya tengah dilanda krisis kemanusiaan serius akibat konflik dan ketegangan di berbagai kawasan.
“Kita melihat peta dunia yang sedang berdarah, tercabik oleh tembok kebencian dan api peperangan. Dari tragedi di Gaza hingga ketegangan di berbagai perbatasan, dunia sedang menangis meminta tangan yang menyembuhkan,” tutur Beni di hadapan para diplomat dan aktivis pemuda OKI.
Ia menegaskan bahwa pemuda Muslim tidak boleh terjebak dalam arus fragmentasi global, melainkan harus tampil sebagai kekuatan pemersatu bagi kemanusiaan. Dalam kesempatan tersebut, Beni juga memperkenalkan konsep Values-Based Smart Power, yaitu kekuatan strategis pemuda yang bertumpu pada karakter, dialog, serta nilai moderasi.
“Di dunia yang bising dengan genderang perang, pemuda harus menjadi pihak yang berbicara dalam bahasa harmoni. Kita bukan sekadar pemimpin masa depan, tapi kita adalah petugas tanggap darurat bagi perdamaian hari ini,” tegas mantan Presiden Pemuda Muhammadiyah itu.
Selain menyoroti isu global, Beni turut mengapresiasi hubungan diplomatik yang terjalin erat antara Indonesia dan Azerbaijan. Ia mendorong OIC Youth Indonesia untuk terus mengoptimalkan diplomasi intelektual serta jejaring internasional dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Menutup orasinya, Beni menyampaikan pesan reflektif tentang makna kebersamaan dalam buka puasa.
"Jika kita bisa duduk rukun di meja makan ini, berbagi roti yang sama meski berbeda bangsa, seharusnya kita mampu membawa kerukunan yang sama ke panggung dunia," tutur Beni.
Kegiatan tersebut ditutup dengan komitmen bersama antara Kedutaan Besar Azerbaijan, OIC Youth Indonesia, dan PP Muhammadiyah untuk terus memperkuat konektivitas pemuda di dunia Islam guna mendorong terciptanya tatanan global yang lebih harmonis, toleran, dan damai.
Program ini diinisiasi oleh OIC Youth Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Azerbaijan dan LDK PP Muhammadiyah dalam rangka memperingati bulan suci Ramadhan 1447 H sekaligus memperkuat diplomasi smart power berbasis nilai di kalangan pemuda Muslim internasional.



fsppi