Lampumerahnews.id
Jakarta – Organisasi Kerja Sama Islam Youth Indonesia atau OIC Youth Indonesia menegaskan komitmennya dalam membangun peran generasi muda sebagai kekuatan diplomasi cerdas (smart power diplomacy). Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Ramadan Gathering yang digelar oleh PP Muhammadiyah pada Kamis (5/3/2026) di Kantor Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat.
President of OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, mengatakan lembaganya hadir sebagai ruang kolaborasi bagi berbagai organisasi kepemudaan Islam serta komunitas kreatif agar dapat bersinergi dalam aktivitas internasional.
“OIC Youth Indonesia memang menjadi payung berbagai OKP Islam, organ kepemudaan, dan juga komunitas Islam. Selain itu, alhamdulillah tahun ini kita bekerja sama dengan Kedutaan Besar Azerbaijan untuk Indonesia dan juga Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah,” kata Astrid usai acara Ramadan Gathering di Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Astrid juga menegaskan bahwa OIC Youth Indonesia memiliki peran yang berbeda dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang bersifat antar-pemerintah. OIC Youth Indonesia merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan ekosistem kepemudaan.
“Kami ini OIC Youth Indonesia adalah youth organization, civil society, tempat berhimpunnya berbagai organ kepemudaan Islam di Indonesia. Kami berada di ekosistem kepemudaan OKI melalui badan-badan OKI, pelatihan diplomasi, dan forum-forum lainnya,” ujarnya.
Salah satu program utama yang dijalankan adalah Model OIC, yakni simulasi sidang diplomatik yang bertujuan melatih dan mengenalkan praktik diplomasi kepada kalangan muda.
“Salah satu program unggulan adalah Model OIC. Ini adalah simulasi sidang OKI atau pelatihan diplomasi OKI yang sudah disahkan dalam forum Menlu OKI tahun 2016 dan forum Menpora OKI di tahun yang sama,” tuturnya.
Menurut Astrid, program tersebut dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa diplomasi tidak hanya menjadi domain diplomat profesional, tetapi juga melibatkan berbagai sektor seperti sains, penelitian, kesehatan, hingga perdagangan.
Menanggapi dinamika geopolitik global, OIC Youth Indonesia menyatakan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Organisasi ini juga menyampaikan duka atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timur Tengah.
“Kami merujuk pada Undang-Undang Hubungan Luar Negeri Nomor 37 Tahun 1999. Kami menyampaikan belasungkawa kepada Kedubes Iran atas syahidnya Ali Khamenei dan juga wafatnya ratusan siswi di Iran,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Astrid berharap pemuda Indonesia mampu memadukan kekuatan budaya dan nilai (soft power) dengan kekuatan ekonomi (hard power) untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
“Harapannya pemuda bisa menjadi aktor dari smart power diplomacy, bukan hanya soft power. Karena kita di Muhammadiyah ini salah satu organ keagamaan terkaya di dunia, artinya ada hard power, ada kekuatan ekonomi. Kita punya cita-cita agar pemuda bisa menjadi aktor smart power agar Indonesia benar-benar dipandang di mata dunia,” pungkas Astrid.



fsppi