-->

TERKINI

Mengapa ISPA Meningkat Pascabanjir di Aceh Tamiang? Debu Lumpur dan Musim Kemarau Jadi Pemicu

lampumerahnews
Selasa, 24 Februari 2026, 03.55 WIB Last Updated 2026-02-23T20:55:40Z

LAMPUMERAHNEWS.ID 

ACEH TAMIANG – Lonjakan kasus ISPA di Aceh Tamiang yang mencapai 14.143 kasus sejak 2 Desember 2025 hingga 19 Februari 2026 bukan sekadar angka statistik. Di balik data Dinas Kesehatan itu, ada perubahan lingkungan pascabanjir yang nyata terasa di lapangan: lumpur mengering, debu beterbangan, dan musim kemarau mulai masuk.


Di sejumlah kecamatan terdampak banjir bandang, bekas genangan kini berubah menjadi lapisan tanah retak dan berdebu. Siang hari, angin membawa partikel halus masuk ke rumah warga. Jalan desa yang dulu terendam kini meninggalkan sisa lumpur tipis yang mudah terangkat saat dilalui kendaraan.

Berdasarkan analisis prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah timur Aceh termasuk Aceh Tamiang mulai bergerak ke pola musim kemarau pada awal 2026, ditandai berkurangnya intensitas hujan dan dominasi cuaca cerah berawan. Perubahan cuaca ini mempercepat proses pengeringan endapan lumpur sisa banjir.


Secara medis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mudah meningkat dalam kondisi seperti ini. Debu halus yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru. Selain faktor lingkungan, daya tahan tubuh warga yang sempat terdampak banjir juga belum sepenuhnya pulih.


Fenomena ini bukan hal baru di daerah rawan banjir. Dalam banyak kasus pascabencana, fase kemarau justru memunculkan gelombang gangguan kesehatan yang berbeda dari saat banjir terjadi. Jika saat banjir penyakit yang dominan adalah diare atau penyakit kulit, maka ketika lumpur mengering, gangguan pernapasan menjadi ancaman berikutnya.


Di sisi lain, masa perpanjangan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh Tamiang yang berlaku 18–24 Februari 2026 segera berakhir. Artinya, penanganan masuk ke tahap pemulihan, sementara dampak kesehatan masyarakat masih berjalan.


Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana tidak berhenti ketika air surut. Dampaknya bisa muncul bertahap, mengikuti perubahan musim dan kondisi lingkungan. Karena itu, pengendalian debu, edukasi penggunaan masker, serta pemantauan kasus di fasilitas kesehatan menjadi langkah penting agar lonjakan ISPA tidak terus bertambah.


Dengan pola cuaca yang cenderung kering dalam beberapa pekan ke depan, kewaspadaan masyarakat dan kesiapsiagaan layanan kesehatan menjadi penentu agar fase pemulihan pascabanjir tidak dibayangi persoalan kesehatan baru.

( Kamalruzamal )

Komentar

Tampilkan

Terkini