Lampumerahnews.id
Aceh Tamiang - Jembatan Gantung Perintis Garuda yang membentang di atas Sungai Tamiang, menghubungkan Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, dengan Desa Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, resmi rampung pada Selasa (17/02/2025). Kehadiran infrastruktur ini menjadi bukti pemulihan akses vital bagi 15 desa di Bandar Pusaka setelah sebelumnya terputus akibat banjir bandang yang merusak Jembatan Lubuk Sidup.
Bentangan sepanjang 250 meter itu kini kokoh berdiri menggantikan jembatan lama yang ambruk diterjang arus deras Sungai Tamiang. Sejak difungsikan, jembatan gantung tersebut langsung dimanfaatkan warga untuk aktivitas harian, mulai dari mengangkut hasil pertanian, menuju sekolah, hingga mengakses layanan kesehatan.
Banjir bandang pada 26 November 2025 sempat melumpuhkan jalur penghubung antar kecamatan tersebut. Warga terpaksa memutar jauh atau menunggu debit sungai turun untuk menyeberang. Kondisi itu membuat distribusi logistik tersendat dan roda ekonomi desa melambat.
Pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda melibatkan prajurit Kodam Iskandar Muda melalui Kodim 0117/Aceh Tamiang dan Brigif 25/Siwah bersama Tim Vertical Rescue Indonesia serta dukungan masyarakat setempat. Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong hingga jembatan dinyatakan siap digunakan.
Komandan Kodim 0117/Aceh Tamiang Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, S.Sos., M.M., menyebut rampungnya jembatan tersebut sebagai bentuk komitmen negara dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
“Jembatan ini menjadi kebutuhan mendesak bagi warga Lubuk Sidup dan Aras Sembilan. Dengan akses yang lebih aman dan layak, aktivitas ekonomi bisa kembali normal, anak-anak tidak lagi terkendala menuju sekolah, dan masyarakat lebih mudah menjangkau layanan kesehatan. Inilah bentuk kepedulian TNI terhadap kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Di lapangan, warga merasakan langsung perubahan itu. Rahmat (45), petani asal Aras Sembilan, mengatakan hasil kebunnya kini bisa dibawa ke pasar tanpa harus menunggu air surut. “Sekarang sudah lancar lagi. Kami tidak lagi terisolasi seperti waktu jembatan lama rusak,” katanya.
Jembatan gantung ini dirancang untuk dilintasi pejalan kaki dan kendaraan roda dua, menyesuaikan kebutuhan mobilitas masyarakat pedesaan. Dengan panjang sekitar 250 meter, jembatan tersebut menjadi salah satu bentang terpanjang di kawasan itu dan berfungsi sebagai urat nadi baru penggerak ekonomi.
Rampungnya Jembatan Gantung Perintis Garuda menandai pulihnya konektivitas antara Kecamatan Sekerak dan 15 desa di Kecamatan Bandar Pusaka, sekaligus menjadi simbol kebangkitan Aceh Tamiang pascabencana.
(Kamalruzamal)



fsppi