-->
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIBqT-OUa9jEiq7Y9uWvEHU21SukZMSTRfLaLx0KdplJ_yfjH-i7OPr8bce05ALbCWpWjujNUD4MVagpNnbneabAIH3qHmMkP-uGzdd_my4I7drwKvgG1F_ZM7b6R7CieebuQjCxQJ8TI3mYiVWyF-TSJ7KX9lE3xDHHZlwljYMKhxPV41s9zoOtqn0Tk/s1350/1001703115.png"

Diduga aksi penerobosan rumah , pekerja jasa kontraktor Archimax tanpa izin pemilik

lampumerahnews
Senin, 05 Januari 2026, 14.53 WIB Last Updated 2026-01-05T07:53:54Z

Lampumerahnews.id 

Nganjuk - Pemilik rumah, Hendri Lucky, yang beralamat di Jl. Profesor Gondo Wardoyo No. 35, Kelurahan Payaman, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk, merasa kecewa dan menolak dengan terganggunya aksi penerobosan wilayah rumah milik nya tanpa izin yang dilakukan oleh sejumlah pekerja bangunan. Peristiwa tersebut diduga melibatkan tukang dari pihak kontraktor Archimax yang tengah mengerjakan proyek pembangunan toko busana muslim milik Suwito dan menilai tindakan tersebut sebagai perilaku tidak profesional serta mengganggu kenyamanan dan keamanan keluarganya.


Hendri menuturkan, para pekerja diduga masuk ke pekarangan rumahnya melalui bagian belakang dengan cara memotong kawat berduri tanpa seizin pemiliknya.


" Rumah saya ini kawat durinya dibobol dari belakang, mereka masuk tanpa izin. Tiba-tiba sudah ada tiga orang tukang di dalam rumah. Saat saya tanya izin ke siapa, katanya ke saudara saya. Padahal saudara saya itu tidak berhak memberi izin,” ujar Hendri kepada jurnalis, Jumat (2/1/2026).


Ia menilai cara masuk tersebut terlalu semena-mena dan tidak mengedepankan etika maupun tata krama.


"Kenapa tidak izin baik-baik? Kita sama-sama orang Indonesia, harusnya pakai cara yang sopan,” tambahnya.


Tak hanya soal kerusakan pagar, Hendri mengaku lebih khawatir terhadap dampak jangka panjang terhadap keamanan rumahnya.


"Kerusakan pagar mungkin bisa diperbaiki, tapi yang saya keluhkan itu privasi. Artinya orang sudah tahu cara masuk ke rumah saya. Itu mengganggu rasa aman saya dan keluarga,” ungkap nya. 


Hendri menjelaskan, kejadian bermula saat para pekerja masuk ke area rumahnya pada siang hari. Ia baru mengetahui dan menegur keesokan harinya. Namun, respons para pekerja dinilai tidak etis.


"Saat saya bertanya, jawabannya tidak elok. Saya bicara dari dekat, malah dijawab teriak-teriak dari jauh. Akhirnya saya suruh keluar lewat pintu depan dan langsung saya menghentikan pekerjaan,” tegasnya. 


Ia juga mengaku terkejut setelah mengetahui bahwa proyek di lahan sebelah rumahnya yang merupakan milik Toko Mas Subur dan disewakan kepada Suwito menggunakan jasa kontraktor dari Archimax.


Sebelumnya pimpinan Archimax sempat menghubungi dan menyampaikan permintaan maaf, namun penyelesaiannya dialihkan ke tim. Saya rasa ini sudah masuk kategori penerobosan, jadi saya ingin menuntaskan lewat jalur hukum,” tegas Hendri.


Kejadian tersebut semakin meyakinkan karena saat itu rumah Hendri hanya dihuni oleh perempuan, termasuk istri, anak, dan babysitter, sementara dirinya tidak berada di rumah.


"Itu sangat mengecewakan. Kalau cara kerjanya seperti ini, jelas tidak bisa dianggap sepele. Ini bukan soal pencurian, tapi soal menerobos tanpa izin,” ujarnya. 


Hendri menilai pihak kontraktor kurang profesional, baik dalam pelaksanaan pekerjaan maupun dalam penyelesaian masalah.


"Saya menganggap ini sangat tidak profesional. Manajemennya juga tidak baik, seperti meremehkan persoalan kecil. " 


Ia menegaskan akan terus memperjuangkan haknya sebagai pemilik rumah dan menyerahkan sepenuhnya proses tersebut ke jalur hukum.


Diketahui, Archimax merupakan penyedia jasa desain arsitek profesional yang beroperasi di Kabupaten Nganjuk. Namun hingga berita ini diturunkan, pihak yang diduga dari Archimax belum memberikan tanggapan resmi terkait permasalahan tersebut.


Perkara ini telah dilaporkan dan akan terus dikawal sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

 

Komentar

Tampilkan

Terkini