-->

TERKINI

Di Sidang Tipikor, Ahok Soroti Pencopotan Dua Figur Kunci Kilang Pertamina

lampumerahnews
Rabu, 28 Januari 2026, 05.55 WIB Last Updated 2026-01-27T22:55:53Z

Lampumerahnews.id


 Jakarta – Mantan Komisaris Utama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengungkapkan kejanggalan terkait pencopotan dua direksi anak usaha Pertamina saat memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan perkara korupsi minyak mentah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/1/2026). Dalam persidangan tersebut, Ahok turut menyinggung peran Eks Menteri BUMN Erick Thohir serta Presiden ke-7 RI Joko Widodo.


Isu itu mencuat ketika jaksa penuntut umum menanyakan status dua mantan direksi subholding Pertamina, yakni Joko Priyono dan Mas’ud Khamid, yang disebut telah dicopot dari jabatannya.


"Ini saya ingin menanyakan aja ya, penegasan, ada dua nama, namanya Pak Joko Priyono dan Pak Mas'ud Khamid, dua-duanya mantan direksi pada anak perusahaan Pertamina, subholding ya.


Satu KPI, satu PPN. Ini istilah saudara sebut di sini yang ‘sudah dicopot’ ini. Nah, ini ada persoalan tidak dengan dua orang ini sehingga kemudian ini disebut sebut sebagai mantan yang sudah dicopot? Ada masalah enggak?,” tanya jaksa saat persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.


Menanggapi pertanyaan tersebut, Ahok justru menilai Joko Priyono dan Mas’ud Khamid sebagai sosok terbaik yang pernah dimiliki Pertamina. Menurutnya, keduanya memiliki kapasitas dan integritas tinggi, terutama dalam pembenahan kilang dan pengelolaan bisnis energi.


"Bagi saya, dua saudara ini adalah Dirut yang terhebat yang Pertamina punya untuk mau perbaiki produksi kilang termasuk perbaiki Patra Niaga. Makanya saya sangat senang dengan mereka, semua yang saya arahkan, dia kerjakan. Termasuk soal editif ini, Pak Mas'ud ini lebih baik dipecat daripada tanda tangan kalau ada penyimpangan pengadaan. Makanya saya bilang ini adalah salah satu terbaik yang kita punya," ujar Ahok.


Ahok kemudian menuturkan kekecewaannya secara emosional saat mengetahui Joko Priyono dicopot dari jabatan strategisnya. Ia menyebut pencopotan tersebut tidak mencerminkan prinsip meritokrasi di tubuh BUMN.


"Pak Joko ini, ini orang kilang, asli dari kilang. Ini orang menurut saya adalah orang yang terbaik pengetahuan tentang kilang, dia yang kasih tahu saya kelemahan kilang, apa yang mau diperbaiki. Ketika dia dicopot saya pun mau nangis, saya telepon dia. Dia bilang gini, 'pak, sudahlah pak, saya di Yogya saja' dia bilang. Saya pikir BUMN ini keterlaluan gitu lo, mencopot orang yang bukan meritokrasi. Kenapa orang yang mau melakukan (hal yang benar) dicopot? ini orang terbaik Pak Joko itu, makanya saya tulis dicopot (dalam BAP)," kata Ahok.


Atas dasar itu, Ahok mendorong aparat penegak hukum untuk menelusuri alasan pencopotan dua pejabat tersebut, termasuk dengan memeriksa pihak-pihak yang berwenang mengambil keputusan.


"Makanya saya selalu bilang sama pak jaksa, kenapa saya mau laporin ke jaksa? periksa tuh sekalian BUMN, periksa tuh Presiden bila perlu, kenapa orang terbaik dicopot?," tegas Ahok.


Pernyataan Ahok sempat memancing reaksi pengunjung sidang yang memberikan tepuk tangan, hingga membuat suasana ruang sidang menjadi riuh. Majelis hakim pun langsung menegur hadirin agar menjaga ketertiban.


"Tolong-tolong pengunjung, bisa tertib pengunjung, pengunjung. Ini persidangan ya, ini bukan hiburan. Tolong jangan bertepuk tangan, tolong," kata majelis hakim.


Sementara itu, jaksa penuntut umum menegaskan bahwa kesaksian Ahok terkait dorongan pemeriksaan terhadap Erick Thohir dan Presiden Jokowi tidak berkaitan langsung dengan substansi perkara yang sedang disidangkan. Jaksa menyebut Ahok tidak menguraikan fakta hukum yang dapat ditindaklanjuti.


"Itu kan fakta dari keterangan saksi pak ahok, saksi sendiri tidak menjelaskan fakta yang mana, kemudian detil perbuatan seperti apa, itu tidak pernah dikemukakan di persidangan, tidak ada dokumen atau keterangan dari pak Ahok yang bisa kita pastikan bahwa fakta tadi ada," ujar jaksa.

Komentar

Tampilkan

Terkini