Lampumerahnews.id
JAKARTA — Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mematangkan persiapan penyelenggaraan Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 yang akan berlangsung di Bandung pada 20–22 Oktober 2026.
Persiapan forum keinsinyuran tingkat ASEAN itu menjadi bagian yang dibahas dalam Young Engineers Festival (YEF) 2026 – Road to CAFEO 44 di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan insinyur muda untuk membahas berbagai tantangan pembangunan, mulai dari transformasi digital, transisi energi, perubahan iklim hingga kebutuhan industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Mengangkat tema “Engineering the Future: Driving Innovation, Sustainability, Green Jobs, and Inclusive Leadership for ASEAN”, YEF 2026 menjadi ruang bagi generasi muda keinsinyuran untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring profesional, dan membangun peluang kolaborasi lintas negara.
Chairperson of Committee CAFEO 44 sekaligus Executive Director PII, Ir. Santhi Serad, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., mengatakan tantangan yang dihadapi ASEAN membutuhkan keterlibatan para insinyur dari berbagai negara. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kemanusiaan, keberlanjutan, dan penguatan kerja sama regional.
“ASEAN adalah kawasan yang dinamis dan beragam, yang dipersatukan oleh aspirasi bersama untuk perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan berkelanjutan,” ujar Santhi.
Tantangan Keinsinyuran di Era Perubahan Teknologi
Sekretaris Jenderal PII, Dr. Ir. Teguh Haryono, dalam sambutannya menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan otomatisasi yang turut mengubah dunia keinsinyuran.
Menurut Teguh, perkembangan tersebut membuat batas-batas tradisional antar-disiplin teknik semakin bergeser. Engineer tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga dituntut mampu mengikuti transformasi teknologi, memahami aspek keberlanjutan, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ia menilai perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Kemampuan beradaptasi dan memahami dampak inovasi terhadap masyarakat, lingkungan, serta dunia kerja menjadi bagian penting dari kompetensi engineer di tengah perubahan industri.
Teguh juga mengapresiasi tema YEF 2026 yang dinilainya relevan dengan tantangan dunia keinsinyuran saat ini, terutama terkait pengembangan lapangan kerja dan kemakmuran yang lebih inklusif di kawasan Asia-Pasifik.
Perkuat Peran Insinyur Muda ASEAN
Santhi menilai ASEAN memiliki potensi besar dengan dukungan populasi muda, pertumbuhan ekonomi, serta kekayaan sumber daya alam dan budaya. Di sisi lain, kawasan ini menghadapi sejumlah persoalan bersama, seperti perubahan iklim, transisi energi, urbanisasi, transformasi digital, dan ketimpangan akses terhadap peluang.
“Tantangan-tantangan ini tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Hal ini membutuhkan para insinyur ASEAN untuk bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan menciptakan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan planet kita,” katanya.
Ia menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata. Pembangunan hijau, kata Santhi, juga perlu diarahkan untuk menciptakan pekerjaan yang layak serta membuka ruang kepemimpinan yang lebih luas bagi generasi muda, perempuan, dan kelompok masyarakat yang beragam.
“Para insinyur muda bukan hanya pemimpin masa depan. Kalian sudah menjadi inovator, pemecah masalah, dan agen perubahan saat ini,” tuturnya.
Menjelang CAFEO 44 di Bandung, Santhi mengajak para insinyur muda Indonesia dan negara-negara ASEAN memperkuat jejaring serta kerja sama profesional.
“CAFEO 44 harus menjadi lebih dari sekadar konferensi tahunan. Ini harus menjadi platform untuk mengubah dialog menjadi kolaborasi dan kolaborasi menjadi dampak nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Chairperson of the Young Engineers Festival 2026, Ir. Rifqi Taufiqurrahman, S.T., M.T., CEM, mengatakan YEF dirancang sebagai ruang pertemuan bagi insinyur muda untuk saling belajar, bertukar gagasan, dan membangun kolaborasi.
“Kita berkumpul dengan semangat bersama untuk merekayasa masa depan melalui teknologi, keberlanjutan, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan yang inklusif bagi ASEAN,” ujar Rifqi.
Menurutnya, perkembangan teknologi, transisi energi, digitalisasi, dan pembangunan berkelanjutan telah mengubah cara masyarakat hidup dan bekerja. Kondisi tersebut membuat peran engineer tidak hanya berfokus pada penyelesaian persoalan teknis, tetapi juga memastikan inovasi mampu menciptakan peluang berkelanjutan dan memberikan dampak bagi masyarakat.
CAFEO 44 Siapkan 17 Working Group
CAFEO 44 di Bandung diproyeksikan menghadirkan sekitar 600 hingga lebih dari 800 delegasi dari 11 negara anggota ASEAN. Selain menjadi forum pembahasan arah industrialisasi kawasan, perhelatan tersebut juga disiapkan untuk memperkuat inovasi dan kerja sama di bidang keinsinyuran.
PII menyiapkan 17 working group dalam rangkaian CAFEO 44. Delapan di antaranya akan melakukan pembahasan teknis melalui kunjungan langsung ke sejumlah industri dan institusi strategis.
Lokasi yang masuk dalam agenda technical visit antara lain PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT Pindad, Bio Farma, Museum Geologi, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Santhi mengatakan kunjungan tersebut dirancang agar para delegasi dapat melihat secara langsung penerapan teknologi dan aktivitas industri, sekaligus memperluas wawasan mengenai kapasitas keinsinyuran Indonesia.
“Para delegasi datang, berdiskusi, dan langsung melakukan technical visit ke lokasi produksi. Konsep ini belum pernah dilakukan negara lain, hanya kita yang menyelenggarakannya di Bandung,” ujarnya kepada awak media di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Selain kunjungan industri, perjalanan delegasi dari Jakarta menuju Bandung akan memanfaatkan Kereta Cepat Whoosh. Moda transportasi tersebut menjadi salah satu contoh perkembangan teknologi infrastruktur Indonesia yang dapat diperkenalkan kepada peserta dari negara-negara ASEAN.
CAFEO 44 mengangkat tema “Shared Prosperity and Humanity through Inclusive and Sustainable Industrialization.” Pengembangan sumber daya manusia keinsinyuran menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi perubahan industri dan mendorong industrialisasi yang berkelanjutan.
Green Jobs dan Kesiapsiagaan Bencana
Perubahan menuju industri hijau turut membuka kebutuhan terhadap jenis pekerjaan baru atau green jobs. Rifqi mengatakan insinyur muda memiliki peran penting dalam menjawab kebutuhan tersebut melalui penguasaan kompetensi baru dan kolaborasi lintas bidang keinsinyuran.
Selain isu industri hijau, kesiapsiagaan bencana juga menjadi bagian dari agenda teknis CAFEO 44. Kondisi Indonesia yang berada di kawasan Pacific Ring of Fire membuat aspek mitigasi dan kesiapsiagaan bencana relevan dalam pengembangan infrastruktur serta pembangunan berkelanjutan.
Museum Geologi menjadi salah satu lokasi yang dipersiapkan dalam technical visit untuk memperkenalkan aspek geologi dan kebencanaan kepada para delegasi.
AI Bukan Pengganti Nalar Engineer
Perkembangan AI juga menjadi perhatian dalam pembahasan masa depan profesi keinsinyuran. Wakil Sekretaris Jenderal PII, Ir. Haudhi Ramdayuza, S.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
“AI itu sebagai teman, bukan pengganti otak manusia. Kita yang mengarahkan tools tersebut. Penggunaan AI tetap membutuhkan nalar kritis dan analisis, tidak bisa ditelan bulat-bulat,” jelas Haudhi.
Menurutnya, hasil yang diberikan AI tetap perlu melalui proses verifikasi, penalaran, dan analisis sebelum digunakan sebagai dasar dalam pekerjaan profesional engineer.
Haudhi juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang semakin kompleks.
“Eranya hari ini adalah kolaborasi. Pekerjaan baru seperti green jobs membutuhkan kolaborasi lintas sektor keinsinyuran,” pungkasnya.
Melalui YEF 2026 dan rangkaian menuju CAFEO 44, PII mendorong penguatan jejaring antarinsinyur muda ASEAN. Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang dari pertukaran gagasan menjadi kerja sama konkret di bidang teknologi, energi, digitalisasi, lingkungan, industri, dan pembangunan berkelanjutan.
Rifqi menegaskan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menentukan arah masa depan keinsinyuran dan ASEAN.
“Sebab, masa depan dunia keinsinyuran dan masa depan ASEAN akan dibentuk oleh apa yang kita pilih untuk bangun dan bagaimana kita memilih untuk berkolaborasi bersama,” tuturnya.
Dengan memadukan konferensi, working group, diskusi teknis, kunjungan industri, dan keterlibatan insinyur muda, CAFEO 44 di Bandung diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan, teknologi, industri, dan kerja sama regional untuk mendukung industrialisasi ASEAN yang inklusif dan berkelanjutan.


