Lampumerahnews.id
JAKARTA – Diskursus tentang kejujuran dan integritas kembali mengemuka di ruang publik melalui buku "IJAZAH JOKOWI: Pertaruhan Moral Bangsa dan Refleksi Kejujuran (Sebuah Renungan Filosofis)" karya Ketua Umum PPWI Wilson Lalengke.
Momentum ini terlihat saat dua tokoh nasional dengan latar berbeda, selebritas Raffi Ahmad dan tokoh ulama Habib Rizieq Shihab, kedapatan berfoto bersama sambil memegang buku tersebut pada Senin, 30 Juni 2026.
Kedua tokoh itu menerima satu eksemplar buku melalui perantara anggota Persatuan Pewarta Warga Indonesia PPWI DKI Jakarta. Distribusi ini menjadi langkah taktis menyebarkan pemikiran tentang moralitas hingga ke level elite dan masyarakat luas.
"Terima kasih untuk Dion, yang sudah menyampaikan buku penting ini kepada para pemimpin bangsa. Semoga pesan-pesan Kejujuran, Integritas, dan Moralitas yang termaktub dalam buku saya itu akan menyebar seperti virus melalui sikap, pernyataan-pernyataan, serta tausiah mereka ke masyarakat di masa depan," ungkap Wilson Lalengke dalam keterangan pers nya .(4/7).
Tembus Tokoh Nasional dan Internasional
Sebelum Raffi Ahmad dan Habib Rizieq, buku ini telah lebih dulu dimiliki sejumlah tokoh nasional. Di antaranya Wakil Ketua DPR RI Prof. Sufmi Dasco Ahmad , Senator DPD RI asal Aceh 2014-2024 Dr. Fachrul Razi, dan Ketua Umum PDKN Dr. Rahman Sabon Nama.
Buku karya lulusan pascasarjana bidang _Global Ethics_ dan _Applied Ethics_ dari tiga universitas terbaik di Eropa ini juga telah menembus kancah internasional. Beberapa tokoh dunia dan diplomat yang mengoleksinya antara lain Presiden Hippo Family Jepang Mr. Kenshi Suzuki, Councillor International WPF University Mr. Muhammad Jesues Chrishna, dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mr. Sergey Tolchenov.
Diapresiasi Jurnalis Senior
Kehadiran buku ini juga mendapat apresiasi dari kalangan media. Jurnalis senior Idris Hady mengaku menikmati gaya bahasa dan kedalaman isi buku tersebut hingga membacanya ulang.
"Saya sangat bersyukur bisa memiliki dan membaca buku 'Ijazah Jokowi: Pertaruhan Moral Bangsa dan Refleksi Kejujuran' ini. Saya bahkan sampai membaca ulang karena begitu menikmati alur kata dan susunan kalimatnya. Gaya bahasanya sangat renyah dan mudah dipahami, namun isinya sarat akan kedalaman pemikiran filsafat yang menuntut kita merenung,"ujar Idris Hady. Ia bahkan memesan 10 buku untuk dihadiahkan kepada koleganya.
Menurut Idris, kemampuan Wilson meramu isu sensitif menjadi refleksi moral yang jernih adalah pencapaian intelektual. Di tengah minimnya literatur yang menyoroti moralitas fundamental bangsa, buku ini hadir sebagai oase sekaligus cermin untuk Indonesia yang lebih jujur dan berintegritas.


