![]() |
| 4 Pemuda Perwakilan Provinsi Aceh, bersama Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir di Jakarta. |
Lampumerahnews.id
JAKARTA – Empat pemuda asal Aceh mendapat kesempatan berdialog langsung dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, dalam rangkaian Wirasena Youth Camp 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang interaksi antara perwakilan generasi muda daerah dan pemerintah pusat dalam membahas persoalan serta tantangan kepemudaan.
Keempat pemuda tersebut adalah Maulana Habib, Arbi Riyansyah, Sarah Salsabil, dan Humaira Hasmi. Mereka merupakan peserta Wirasena Youth Camp 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 21–31 Oktober 2026 bersama pemuda dari berbagai provinsi di Indonesia.
Dialog bersama Erick Thohir menjadi salah satu agenda penting dalam program yang mengusung nilai patriotik, gigih, dan berempati tersebut. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan ruang untuk memperluas wawasan sekaligus memahami berbagai tantangan pembangunan kepemudaan di tingkat nasional.
Selain dialog dengan Menpora, peserta juga mengikuti sesi pembelajaran, diskusi, dan penyusunan gagasan yang diarahkan pada persoalan serta kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.
Salah satu peserta, Maulana Habib, menilai kesempatan mengikuti forum nasional tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman atau pencapaian pribadi. Menurutnya, keberhasilan pemuda justru terlihat dari kemampuan menerapkan pengetahuan dan gagasan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat setelah kembali ke daerah.
“Menurut saya, keberhasilan pemuda bukan diukur dari seberapa banyak forum yang diikuti, tetapi dari apa yang dilakukan setelahnya. Kesempatan seperti ini harus bisa melahirkan gagasan dan tindakan nyata bagi masyarakat,” ujar Maulana.
Rangkaian Wirasena Youth Camp kemudian berlanjut dengan Indonesia Youth Summit pada 29–30 Oktober 2026. Forum tersebut membahas berbagai isu kepemudaan, termasuk pendidikan karakter, kewirausahaan, kepemimpinan, ekonomi kreatif, serta perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Keikutsertaan empat pemuda Aceh dalam kegiatan ini membuka kesempatan memperluas jejaring dan membawa perspektif daerah ke dalam ruang diskusi nasional. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi gagasan dan kontribusi nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Aceh.
(Kamalruzamal)


