Lampumerahnews.id
ACEH TAMIANG — Proyek preservasi Jalan Alur Sali–Simpang IV Alur Sali di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, mulai menjadi sorotan setelah satu koridor jalan tersebut diketahui terbagi dalam dua paket pekerjaan berbeda dengan nilai kontrak miliaran rupiah, sementara kondisi hasil pekerjaan di lapangan memunculkan pertanyaan mengenai mutu pekerjaan dan efektivitas pengawasan teknis.
Berdasarkan papan proyek di lokasi serta dokumen pengadaan pemerintah, pekerjaan preservasi ruas jalan tersebut dibagi ke dalam dua seksi berbeda.
Paket pertama dikerjakan CV Alingenk dengan nilai kontrak Rp9.249.975.103 untuk pekerjaan preservasi Jalan Alur Sali–Simpang IV Alur Sali Seksi I.
Sementara paket kedua dikerjakan CV AW Generations dengan nilai kontrak Rp8.841.449.023 untuk pekerjaan preservasi Jalan Alur Sali–Simpang IV Alur Sali Seksi II.
Kedua proyek tersebut sama-sama bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.
Meski terbagi dalam dua paket pekerjaan berbeda, kedua proyek tersebut berada dalam satu koridor Jalan Alur Sali–Simpang IV Alur Sali yang saling terhubung secara langsung.
Pembagian proyek dalam satu koridor jalan tersebut membuat konsistensi mutu pekerjaan dan standar layanan jalan menjadi perhatian masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Minggu (7/6/2026), kondisi permukaan jalan pada sejumlah titik terlihat belum seragam. Pada beberapa bagian, tekstur hamparan aspal tampak kasar dan berpori, sementara di titik lain terlihat lebih halus.
Selain itu, sambungan antarhamparan aspal pada beberapa titik juga tampak belum menyatu sempurna sehingga pada beberapa bagian terlihat garis sambungan yang cukup jelas di permukaan jalan.
Pada titik pembangunan saluran air atau box culvert, badan jalan terlihat menyempit dibanding ruas sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mempengaruhi lebar efektif jalan serta kenyamanan pengguna jalan, terutama pada titik tikungan dan jalur sempit yang minim ruang manuver kendaraan.
Dalam prinsip desain geometrik jalan, konsistensi lebar jalan menjadi bagian penting untuk menjaga keamanan, kenyamanan serta tingkat layanan jalan bagi pengguna.
Pembangunan box culvert pada pekerjaan preservasi jalan pada dasarnya merupakan bagian dari desain teknis yang telah direncanakan dalam pekerjaan. Namun kondisi penyempitan badan jalan pada sejumlah titik memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan geometrik dan tingkat layanan jalan yang direncanakan.
Dalam konsep preservasi jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, pekerjaan preservasi long segment bertujuan menjaga kondisi layanan jalan tetap mantap, aman dan seragam sepanjang segmen jalan.
Konsep preservasi tersebut tidak hanya mencakup pekerjaan perkerasan jalan, tetapi juga bahu jalan, drainase, perlengkapan jalan, indikator kinerja hingga inspeksi harian selama pekerjaan berlangsung.
Dalam Standar Operasional Prosedur Evaluasi Usulan Program Preservasi Jalan SOP/UPM/DJBM-187 Tahun 2023, Direktorat Jenderal Bina Marga juga menjelaskan bahwa International Roughness Index (IRI) atau tingkat ketidakrataan permukaan jalan menjadi salah satu parameter penting dalam penilaian kondisi jalan pada pekerjaan preservasi.
Karena itu, kondisi permukaan jalan yang terlihat bergelombang dan tekstur hamparan yang tidak seragam mulai memunculkan pertanyaan mengenai pemenuhan standar tingkat layanan jalan pada proyek preservasi tersebut.
Dalam pekerjaan preservasi jalan, kualitas hamparan dan tingkat kerataan permukaan menjadi faktor penting karena berkaitan langsung dengan umur layanan jalan serta kenyamanan pengguna jalan dalam jangka panjang.
Dari sisi teknis, mutu hamparan aspal juga menjadi perhatian karena pada sejumlah titik tekstur permukaan jalan terlihat kasar dengan butiran agregat yang tampak lebih menonjol dibanding hamparan aspal pada umumnya.
Pada sejumlah titik pekerjaan, media juga mendapati pengangkutan material hotmix dilakukan tanpa menggunakan penutup terpal pada bak truk pengangkut.
Dalam pekerjaan campuran beraspal panas, suhu material menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kualitas hamparan dan daya ikat aspal saat proses penghamparan serta pemadatan berlangsung.
Dalam Spesifikasi Umum Bina Marga 2018, pengendalian mutu campuran beraspal panas menjadi bagian penting untuk menjaga umur layanan jalan. Penurunan suhu campuran selama proses distribusi berpotensi mempengaruhi kualitas hamparan aspal di lapangan.
Selain mutu pekerjaan, pola pengawasan proyek juga mulai menjadi perhatian publik.
Dokumen pengadaan pemerintah pada sistem SPSE/Inaproc menunjukkan pekerjaan preservasi jalan tersebut masuk dalam cakupan Paket Pengawasan Teknik Jalan Daerah II Provinsi Aceh (Paket 23/2025).
Paket jasa konsultansi pengawasan itu mencakup sejumlah proyek jalan di Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang dengan nilai kontrak sekitar Rp984 juta.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian mengenai efektivitas pengawasan lapangan ketika satu paket pengawasan menangani sejumlah proyek di wilayah berbeda secara bersamaan.
Kondisi tersebut membuat pengendalian mutu lapangan menjadi sorotan, terutama karena proyek preservasi jalan menuntut konsistensi kualitas hamparan, kerataan permukaan dan fungsi drainase sepanjang segmen jalan.
Dalam Surat Edaran Menteri PUPR Nomor 21/SE/M/2019 tentang Standar Susunan Tenaga Ahli untuk Pengawasan Pekerjaan Konstruksi, struktur pengawasan pekerjaan jalan dan jembatan mencakup sejumlah tenaga teknis seperti Supervision Engineer, Quality Engineer, Quantity Engineer, Inspection Engineer hingga tenaga K3 konstruksi.
Keberadaan tenaga teknis tersebut diperlukan untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi, mulai dari pengendalian mutu material, pengukuran volume pekerjaan hingga pengawasan keselamatan konstruksi.
Masyarakat berharap Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) serta konsultan pengawas melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh terhadap hasil pekerjaan di lapangan agar kualitas proyek preservasi jalan benar-benar sesuai standar dan aman digunakan masyarakat dalam jangka panjang.
Pengawasan terhadap proyek preservasi jalan dinilai tidak hanya penting untuk memastikan kualitas pekerjaan saat ini, tetapi juga menentukan ketahanan infrastruktur jalan agar tidak cepat kembali membutuhkan biaya pemeliharaan dari anggaran negara.
Dalam proyek preservasi jalan nasional, kualitas pekerjaan tidak hanya diukur dari selesainya pengaspalan, tetapi juga kemampuan jalan mempertahankan tingkat layanan dalam jangka panjang sesuai tujuan penggunaan anggaran negara.
Dengan nilai proyek yang mencapai belasan miliar rupiah dalam satu koridor jalan, masyarakat berharap pekerjaan preservasi tersebut tidak hanya selesai secara administratif, tetapi benar-benar menghasilkan kualitas jalan yang aman, nyaman dan memiliki umur layanan sesuai standar preservasi jalan nasional.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana maupun pengawas proyek belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi pekerjaan di lapangan.
(Kamalruzamal)


