-->

TERKINI

Korban Banjir Aceh Tamiang Keluhkan Huntap Berubah Setelah Enam Bulan

lampumerahnews
Selasa, 09 Juni 2026, 14.25 WIB Last Updated 2026-06-09T07:25:11Z

 Lampumerahnews.id 

ACEH TAMIANG - Enam bulan setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang, sebagian korban masih bertahan di rumah rusak tanpa kepastian rehabilitasi. Di Kampung Pangkalan, Kecamatan Kejuruan Muda, warga mengeluhkan lambannya realisasi pembangunan hunian tetap bagi korban rumah rusak berat, meski sebelumnya pemerintah disebut sudah menjanjikan relokasi dan memperlihatkan desain rumah yang akan dibangun.


Abdurrahman atau Dodi, salah seorang warga terdampak, mengaku hingga kini masih tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Selain dinding rumah berlubang akibat diterjang banjir, pondasi rumahnya disebut sudah mulai miring dan mengkhawatirkan keselamatan penghuni.


Sebagian dinding rumah tampak ditutup menggunakan papan dan bahan seadanya, sementara bagian bangunan lain masih menyisakan kerusakan akibat banjir yang melanda beberapa bulan lalu.


Untuk bertahan, ia terpaksa menutup bagian rumah yang rusak agar hewan liar tidak mudah masuk ke dalam rumah.


“Rumah saya udah beberapa kali kemasukan ular dan lipan,” kata Dodi.


Menurut Dodi, sekitar enam bulan lalu pemerintah sempat menyampaikan bahwa warga Kampung Pangkalan yang rumahnya rusak berat akan dibangunkan hunian tetap di Kampung Tanjung Mancang. Bahkan, kata dia, warga sebelumnya sudah pernah didatangi pihak kontraktor pelaksana dan diperlihatkan desain rumah yang akan dibangun.


“Kontraktor pernah datang menunjukkan gambar rumah yang akan dibangun. Tapi sampai sekarang di kampung kami satupun huntap belum dibangun,” ujarnya.


Namun setelah menunggu sekitar enam bulan, warga kembali menerima informasi baru pada awal Juni 2026 bahwa lokasi pembangunan huntap berubah dan akan dibangun di tapak rumah lama di Kampung Pangkalan.


Perubahan skema pembangunan setelah enam bulan penantian membuat warga mulai mempertanyakan kepastian rehabilitasi pascabanjir. Sebab hingga kini sebagian korban masih tinggal di rumah yang belum layak huni, sementara pembangunan hunian tetap belum juga terlihat di lapangan.


Ketidakpastian itu membuat sebagian warga mulai kehilangan harapan terhadap percepatan pemulihan pascabanjir, terutama bagi keluarga yang hingga kini masih tinggal di bangunan rusak dan rawan roboh.


Informasi yang diperoleh dari perangkat Kampung Pangkalan menyebutkan, hunian tetap yang direncanakan dibangun untuk warga terdampak berjumlah sekitar 30 unit. Rumah tersebut diperuntukkan bagi korban banjir dengan kategori kerusakan berat.


Dari gambar desain yang diperlihatkan kepada warga, rumah hunian tetap itu tampak berupa bangunan permanen sederhana dengan konstruksi dinding batako dan atap baja ringan. Namun hingga kini belum terlihat aktivitas pembangunan huntap di Kampung Pangkalan.


Bagi warga, persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar keterlambatan bantuan, tetapi ketidakjelasan arah pemulihan pascabencana. Pergeseran lokasi pembangunan dinilai menunjukkan rencana rehabilitasi yang berubah di tengah warga masih hidup dalam kondisi serba terbatas.


Di sejumlah titik terdampak banjir di Kecamatan Kejuruan Muda, banyak rumah masih mengalami kerusakan pada dinding, lantai hingga struktur bangunan. Selain rawan dimasuki hewan berbisa, kondisi pondasi rumah yang mulai bergeser membuat warga khawatir bangunan roboh saat hujan deras kembali turun.


Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari BPBD Aceh Tamiang terkait perubahan lokasi pembangunan huntap tersebut.


Bagi warga, waktu enam bulan bukan lagi sekadar masa menunggu bantuan, tetapi periode panjang hidup di rumah rusak dengan ancaman keselamatan yang terus menghantui setiap hari.


 (Kamalruzamal)

Komentar

Tampilkan

Terkini