-->

TERKINI

Jangan Biarkan Masa Depan Kerja Diputuskan Tanpa Pekerja": Seruan Delegasi Pekerja RI Menggema di PBB

lampumerahnews
Selasa, 09 Juni 2026, 01.35 WIB Last Updated 2026-06-08T18:35:31Z

Lampumerahnews.id

JENEWA, SWISS– Hari ke-8 International Labour Conference ILC Session 114 di Jenewa, Swiss, Senin 8/6/2026, jadi panggung unjuk soliditas delegasi tripartit Indonesia. Seluruh unsur pekerja, pemerintah, dan pengusaha tampil kompak mengenakan batik khas Indonesia di sidang pleno Gedung Tempus, Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB Jenewa.


Batik dipilih bukan tanpa alasan. Bagi delegasi RI, batik adalah simbol identitas nasional dan semangat kebersamaan dalam memperjuangkan kepentingan ketenagakerjaan Indonesia di forum dunia.


Sidang pleno berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat. Seluruh delegasi Indonesia hadir penuh dan mendengarkan pernyataan resmi dari 3 Ketua Delegasi Tripartit: Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli untuk pemerintah, Johanes Dartha Pakpahan untuk pekerja, dan Bob Azam untuk pengusaha.


Kehadiran lengkap ini dinilai jadi bukti kuat komitmen Indonesia mendorong pembangunan ketenagakerjaan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan di tengah tantangan global seperti disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan ketimpangan.


Pidato Menaker Yassierli: AI untuk Memperkuat Manusia

Dalam pidato inspiratifnya, Menaker Yassierli menegaskan posisi Indonesia soal Artificial Intelligence. Indonesia memandang AI sebagai "Augmented Intelligence", bukan pengganti manusia.


“Teknologi berfungsi memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan manusia,”beber Yassierli di hadapan delegasi 187 negara anggota ILO.


Ia menekankan transformasi digital harus jadi sarana untuk menaikkan produktivitas, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan pekerja. Untuk itu, pemerintah dorong 3 program strategis: penguatan pemagangan nasional, pendidikan dan pelatihan vokasi yang link and match dengan industri, serta penciptaan lapangan kerja baru sesuai kebutuhan masa depan.


Soal pekerja platform ekonomi digital, Indonesia berkomitmen kembangkan kebijakan pelindung. Tapi kuncinya tetap dialog sosial tripartit. “Dialog antara pemerintah, pekerja, pengusaha adalah instrumen utama merumuskan kebijakan ketenagakerjaan,”ujarnya.


Menaker juga soroti program prioritas pemerintah. Penguatan sistem pemagangan disebut krusial untuk cetak SDM kompeten. Dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis MBG juga ditekankan karena berdampak langsung ke kualitas SDM Indonesia ke depan.


Di isu kemanusiaan global, Indonesia nyatakan dukungan penuh terhadap program tanggap darurat ILO bagi pekerja Palestina terdampak konflik. “Solidaritas internasional penting agar hak pekerja tetap terlindungi dalam situasi krisis dan konflik bersenjata,” kata Yassierli.


Pidato Menaker dapat apresiasi luas karena arah kebijakannya progresif, berorientasi pembangunan manusia, dan menaruh dialog sosial sebagai fondasi hadapi perubahan dunia kerja.


Delegasi Pekerja: Masa Depan Kerja Harus Diputuskan Bersama Pekerja

Giliran Ketua Delegasi Pekerja Johanes Dartha Pakpahan yang angkat suara. Ia menegaskan prinsip dasar ILO harus jadi kompas menghadapi transformasi dunia kerja.


“Masa depan dunia kerja tidak boleh ditentukan hanya oleh kekuatan pasar dan perkembangan teknologi semata. Harus dibangun lewat dialog sosial, penghormatan standar ILO, dan perlindungan martabat manusia,” katanya.


Soal AI, pekerja RI dukung teknologi untuk naikkan produktivitas. Tapi menolak AI yang hilangkan suara pekerja, picu PHK tanpa transisi adil, atau lahirkan diskriminasi algoritma.


“Algoritma boleh membantu, tetapi manusia harus tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab,” tegas Dartha.


Ia juga minta pemerintah perkuat regulasi perlindungan pekerja platform digital agar transformasi teknologi jalan seiring perlindungan hak pekerja.


Di isu internasional, Dartha sampaikan solidaritas penuh ke pekerja Palestina. Ia dorong ILO perkuat perlindungan hak pekerja, pelatihan keterampilan, dan bantuan sosial darurat untuk masyarakat zona konflik.


Pesan penutupnya menggema di ruang sidang: “Jangan biarkan masa depan kerja diputuskan tanpa pekerja. Jangan biarkan pekerja Palestina sendirian. Jangan biarkan ILO melenceng dari keadilan sosial." Ungkapnya 


Dartha ingatkan, keberhasilan ILO harus diukur dari perubahan nyata yang dirasakan kelompok rentan: pekerja migran, informal, platform digital, dan yang terdampak transformasi teknologi.


Dukungan dari Delegasi Banten

H. Dewa Sukma Kelana, S.H., M, Kn delegasi pekerja asal Banten yang juga Sekjen DPD KSPSI Banten, Ketua DPD FSP LEM SPSI Banten, dan dosen Unpam Kampus Serang, dukung penuh semua komitmen yang disampaikan.


Menurutnya, agenda penguatan keterampilan, perlindungan pekerja digital, AI berpusat manusia, dan solidaritas Palestina adalah agenda penting yang harus terus diperjuangkan.


“Apa yang diperjuangkan delegasi Indonesia di forum ILO harus terus dikawal implementasinya agar jadi kebijakan dan program nyata yang manfaatnya langsung dirasakan pekerja Indonesia. Perjuangan di Jenewa harus dapat dirasakan hasilnya oleh para pekerja di tanah air,” ujarnya.


Ia tekankan pentingnya sinergi pemerintah-pekerja-pengusaha agar komitmen internasional diterjemahkan jadi langkah konkret: naikkan kesejahteraan pekerja, perkuat hubungan industrial, wujudkan pekerjaan layak.


Dengan semangat “Merah Putih di Dada, Indonesia di Hati”, delegasi tripartit Indonesia terus tunjukkan komitmen bersama untuk pekerjaan layak, keadilan sosial, dan kesejahteraan pekerja Indonesia serta masyarakat dunia.


Komentar

Tampilkan

Terkini