Lampumerahnews.id
Jakarta – Keberadaan sejumlah makan bergizi gratis (MBG ) yang merupakan program pemerintah di wilayah RW 04 Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Selain membuka lapangan pekerjaan, program tersebut juga dinilai mampu mengurangi angka pengangguran dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif.
Ketua RW 04 Tugu Selatan, Mada, mengaku bersyukur karena wilayah yang dipimpinnya menjadi salah satu kawasan dengan jumlah dapur produksi terbanyak di Kelurahan Tugu Selatan. Saat ini terdapat empat dapur yang beroperasi maupun dalam tahap persiapan, termasuk Dapur Alfa dan dapur yang berada di kawasan stasiun pengisian bahan bakar.
"Saya termasuk salah satu pengurus yang paling bersyukur. Di Tugu Selatan mungkin RW 04 yang dapurnya paling banyak," ujar Mada di Jakarta Utara, Kamis (4/6/2026).
Menurut Mada, sejak awal pembangunan dapur-dapur tersebut, pengurus lingkungan telah menjalin kesepakatan dengan pihak pengelola agar memprioritaskan warga sekitar dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Komitmen itu, kata dia, telah direalisasikan dengan baik.
Saat ini tercatat sebanyak 97 warga RW 04 telah bekerja di berbagai dapur produksi yang ada di wilayah tersebut. Setiap dapur rata-rata mempekerjakan antara 27 hingga 33 orang.
"Per hari ini warga saya yang dipekerjakan sudah lebih dari 97 orang. Dari awal kita memang meminta pengelola untuk memprioritaskan masyarakat sekitar. Alhamdulillah, setiap dapur bisa menyerap puluhan tenaga kerja," ungkapnya.
Mada menilai manfaat yang dirasakan masyarakat tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial lingkungan. Sebelum adanya program tersebut, banyak pemuda lulusan sekolah yang belum memiliki pekerjaan dan kerap menghabiskan waktu hingga larut malam di jalanan.
Kini, sebagian besar dari mereka telah memiliki aktivitas produktif dan penghasilan tetap. Bahkan, kesempatan kerja juga terbuka bagi ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.
"Kalau sebelumnya anak-anak yang baru lulus sering begadang di pinggir jalan. Sekarang sudah sulit menemukan mereka nongkrong sampai malam karena banyak yang sudah bekerja. Termasuk ibu-ibu usia 40 tahun ke atas juga banyak yang ikut bekerja," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa lokasi dapur yang berada di dalam lingkungan RW memberikan keuntungan tersendiri bagi warga. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi maupun biaya tempat tinggal seperti jika harus bekerja di kawasan industri di luar Jakarta.
Tanggapi Isu Perizinan dan Lokasi SPPG
Menanggapi berbagai isu yang sempat berkembang di media sosial terkait perizinan dan keberadaan SPPG di area pom bensin, Mada mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada pihak pengelola dan instansi terkait.
Menurutnya, setiap pembangunan dan operasional fasilitas tersebut tentu telah melalui berbagai pertimbangan, termasuk aspek keamanan dan ketentuan zonasi yang berlaku.
Mada juga menyebut salah satu pengelola dapur sebelumnya telah melakukan komunikasi dan pengurusan administrasi dengan pihak kelurahan serta mengikuti kegiatan sosialisasi yang melibatkan masyarakat.
Selain itu, hubungan antara manajemen SPPG dengan warga sekitar disebut berjalan baik. Pihak pengelola secara rutin menjalin silaturahmi dan berkomunikasi dengan para ketua RT, RW, serta masyarakat setempat guna menjaga hubungan yang harmonis.
Di akhir keterangannya, Mada menegaskan bahwa sebagai pengurus lingkungan, fokus utamanya adalah memastikan kesejahteraan warga dan tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar khusus anak-anak yatim-piatu yang menjadi tulang punggung di keluarga mereka.
"Saya bersyukur karena ada empat dapur di RW 04 dan warga saya banyak yang sudah bekerja. Itu yang paling penting bagi saya sebagai pengurus. Terima kasih kepada Lurah, dan Camat atas dukungannya. Kepuasan seorang pengurus itu ketika melihat warganya bisa bekerja," pungkasnya.


