-->

TERKINI

Skandal ISPPD 2026: Akademisi Indonesia Diduga Mainkan Identitas Palsu di Konferensi Internasional

lampumerahnews
Sabtu, 30 Mei 2026, 13.33 WIB Last Updated 2026-05-30T06:33:50Z



Lampumerahnews.id 


JAKARTA – Dunia akademik Indonesia terseret kontroversi besar. Sejumlah peserta asal Indonesia diduga melakukan manipulasi presentasi ilmiah di konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Kasus ini viral di media sosial dan forum akademik global, dan dinilai mencoreng nama ilmuwan Indonesia.


Modusnya mengejutkan: peserta yang sama diduga berganti pakaian, jilbab, dan nametag untuk tampil sebagai “peneliti berbeda” dengan riset lain. Tujuannya agar satu kelompok bisa mempresentasikan banyak penelitian dalam satu forum yang dihadiri ribuan akademisi dunia.


Yang lebih parah, isi poster riset disorot publik. Sejumlah data diduga hasil fabrikasi, bahkan dibuat dengan bantuan AI tanpa riset lapangan. Beberapa poster punya kesimpulan hampir identik meski topiknya jauh berbeda.


Kecurigaan makin menguat dari afiliasi lembaga yang dicantumkan. Beberapa institusi tidak ditemukan, baik online maupun di database akademik internasional. Lokasi penelitian juga janggal: disebut dilakukan di Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Nepal, Kenya, hingga Bangladesh. Tapi semua peneliti berasal dari Indonesia tanpa kolaborator lokal, tanpa penjelasan akses, dan tanpa izin etik yang wajib untuk riset kesehatan dan sosial internasional.


Standar presentasi pun dipertanyakan. Poster riset disebut hanya dicetak di kertas HVS A4 dan ditempel seadanya. Padahal forum internasional biasanya menuntut kualitas akademik jauh lebih profesional.


Dugaan motifnya sederhana: mengejar travel grant atau pendanaan perjalanan gratis dari panitia konferensi. Beberapa peserta bahkan disebut pernah menerima grant dan penghargaan di konferensi lain sebelumnya.


Skandal ini jadi tamparan bagi riset Indonesia. Akademisi khawatir dampaknya tidak hanya ke pelaku, tapi ke seluruh peneliti Indonesia yang sudah susah payah membangun reputasi. Jika praktik ini berulang, pengawasan ke peserta Indonesia di konferensi global bisa diperketat. Risiko blacklist dan pembatasan partisipasi juga mengintai.


Di tengah jumlah ilmuwan Indonesia yang masih terbatas di kancah internasional, kasus ini mengingatkan: integritas adalah fondasi sains. Tanpa etika, riset berubah jadi alat mengejar prestise dan tiket gratis.


Publik kini menanti langkah tegas. Desakan investigasi menyeluruh, evaluasi sistem seleksi konferensi, dan penegakan etika penelitian makin kuat agar nama Indonesia tidak kembali tercoreng.

Komentar

Tampilkan

Terkini