-->

TERKINI

Sisi Gelap Kapal Dong Sheng: Kesaksian ABK Indonesia dalam Pusaran Penyelundupan Batu Bara Korea Utara

lampumerahnews
Selasa, 03 Maret 2026, 18.58 WIB Last Updated 2026-03-03T15:05:38Z

 

Lampumerahnews.id 

Jakarta – Perusahaan keagenan awak kapal, salah satu Agency di Jakarta Utara , secara resmi menerbitkan surat jaminan (Letter of Guarantee) terkait keberangkatan kru kapal asal Indonesia untuk bertugas di luar negeri. Penugasan ini merupakan instruksi langsung dari prinsipal mereka, SSIS Agency Co., Ltd yang berada di China. 


Anggota anak buah kapal (ABK) asal Indonesia, Ahmad Rizky Sukmawan, membagikan kesaksian mengejutkan mengenai aktivitas ilegal di atas kapal Dongsheng, sebuah kapal berbendera China yang terafiliasi dengan salah satu agency di Jakarta Utara . Dalam sebuah wawancara, Rizky mengungkap bagaimana kapal tersebut terlibat dalam pengangkutan batu bara dari Korea Utara secara sembunyi-sembunyi.

​Kecurigaan Rizky bermula saat kapal Dongsheng yang ia tumpangi diketahui menggunakan dokumen asal Rusia untuk muatan yang sebenarnya diambil dari Korea Utara.


​"Kapal Dongsheng itu ternyata kapal ilegal membawa muatan batu bara dari Korea Utara, dan dokumennya itu dari Rusia. Entah itu dokumen muatan atau dokumen kapal saya kurang paham, tapi muatannya dari Korea Utara," ujar Rizky.


​Rizky menceritakan bahwa banyak ABK asal Vietnam yang meminta turun karena menyadari risiko tersebut. Namun, bagi ABK asal Indonesia, keinginan untuk berhenti di tengah jalan terhalang oleh ancaman denda yang besar.


​"Agen bilang kalau mau turun harus bayar denda sekitar 1.800 dolar sampai dengan 2.500 dolar tergantung di pelabuhan mana kita turun," tambahnya.


Operasi Senyap di Perairan Korea Utara


​Selama menjalankan misi tersebut, Rizky menjelaskan bahwa pihak kapal melakukan berbagai upaya untuk menghindari deteksi otoritas internasional. Salah satunya adalah dengan mematikan sistem identifikasi kapal atau AIS (Automatic Identification System) saat mendekati perbatasan.


​"Bos bilang sebelum perbatasan Korea Utara sama Korea Selatan, AIS harus dimatikan. AIS itu kan tanda pengenal kapal... itu harus dimatikan atas perintah bos," ungkap Rizky.


​Ia juga menceritakan ketatnya pengawasan saat bersandar di Pelabuhan Nampo, Korea Utara. Seluruh alat komunikasi milik awak kapal disita oleh pihak imigrasi setempat selama proses pemuatan batu bara berlangsung.


Tertangkap Coast Guard China


​Meski sempat lolos pada pelayaran pertama, aksi kapal Dongsheng akhirnya terhenti pada pelayaran kedua. Saat memasuki perairan Taizhou, China, kapal tersebut disergap oleh Coast Guard (penjaga pantai) China.


​Rizky, yang bekerja sebagai koki kapal, mengaku terkejut saat melihat petugas sudah berada di atas kapal pada pagi hari.


​"Tiba-tiba pagi-pagi Coast Guard China sudah naik di kapal. Saya kaget... katanya ketahuan kita ambil barang dari Korea Utara cuma nggak ada identitas kapal karena AIS mati," jelasnya.


​Pasca penangkapan, para awak kapal sempat ditahan di atas kapal selama kurang lebih satu minggu sebelum akhirnya beberapa kru, termasuk kapten dan mualim, dibawa ke darat untuk diperiksa lebih lanjut oleh Kepolisian Taizhou.

Komentar

Tampilkan

Terkini