-->

TERKINI

Atasi Masalah TPA Cipeucang, Pemkot Tangsel Galakkan Gerakan Ekonomi Sirkular Melalui Bank Sampah

lampumerahnews
Kamis, 22 Januari 2026, 21.02 WIB Last Updated 2026-01-22T14:02:35Z

Lampumerahnews.id

Tangerang Selatan--- Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Pilar Saga Ichsan mengajak masyarakat untuk memulai perubahan dari hal paling sederhana, yakni memilah sampah langsung dari rumah.




Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi ke Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tangsel dengan tema "Bersama-sama Nyok Pilah Sampah dari Rumah" yang digelar di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Kamis (22/1/2026).




Pilar menegaskan, pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.




“Manusia setiap hari pasti menghasilkan sampah. Sampah itu tanggung jawab kita bersama. Sampah saya adalah masalah saya, sampah kita adalah masalah kita bersama,” tegasnya.




Selain jajaran pimpinan daerah dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel, ada pula Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dari tingkat kota, kecamatan hingga kelurahan pun turut hadir.



Pilar menegaskan, peran TP PKK sangat strategis sebagai ujung tombak perubahan perilaku masyarakat, khususnya di tingkat rumah tangga. Menurutnya, ibu-ibu memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan kesadaran kolektif dalam pengelolaan sampah.




“TP PKK ini adalah ujung tombak dari gerakan-gerakan kesadaran masyarakat di rumah. TP PKK selama ini dipercaya betul oleh masyarakat untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan sosial dan ibu-ibu juga paling sering dipercaya dan didengar," ujarnya.



Ia mengungkapkan, saat ini Kota Tangerang Selatan tengah menghadapi kondisi darurat sampah akibat penataan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA.



Pilar menjelaskan, Pemkot Tangsel tengah menyiapkan solusi jangka menengah dan panjang, mulai dari pembangunan fasilitas Material Recovery Facility (MRF) hingga program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Namun, proses pembangunan teknologi tersebut membutuhkan waktu.



“Sambil menunggu infrastruktur besar terbangun, satu-satunya penyelamat kita hari ini adalah gerakan masyarakat. Dan itu dimulai dari rumah,” katanya.



Dalam kesempatan tersebut, Pilar juga berbagi pengalaman pribadinya dalam menerapkan pemilahan sampah di rumah, mulai dari memisahkan sampah organik, anorganik, hingga residu, serta memanfaatkan lubang biopori untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.



Ia menekankan, konsep bank sampah tidak selalu harus berbentuk bangunan fisik. Lebih dari itu, bank sampah adalah sebuah sistem dan gerakan kolektif masyarakat dalam mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi melalui konsep ekonomi sirkular.



“Bank sampah itu bukan soal bangunannya, tapi gerakannya. Sampah yang dipilah, dikumpulkan, dan diolah bisa bernilai ekonomi dan mengurangi sampah ke TPA,” jelasnya.



Pilar berharap, melalui dukungan penuh TP PKK, gerakan pilah sampah dari rumah dapat dilakukan secara masif dan berkelanjutan di seluruh wilayah Tangerang Selatan.


“Gerakan kecil kalau dilakukan bersama-sama akan menjadi gerakan besar. Saya yakin dengan dukungan ibu-ibu TP PKK, permasalahan sampah di Kota Tangerang Selatan bisa kita atasi bersama,” tuturnya.
Komentar

Tampilkan

Terkini