Lampumerahnews.id
JAKARTA - Serikat Karyawan Perum Jasa Tirta II (Sekar PJT II) memperingati Hari Ulang Tahun ke-23. Lebih dari dua dekade perjalanan organisasi menjadi momentum refleksi terhadap posisi, tantangan, dan arah strategis perusahaan serta pekerja di tengah perubahan bisnis dan regulasi.
Perayaan HUT ke-23 tahun ini mengangkat tema “Corporate Split Identity”. Tema tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas dinamika identitas perusahaan yang memiliki dua fungsi sekaligus: sebagai badan usaha yang dituntut sehat secara bisnis dan sebagai penyedia layanan publik. (04/09/2026)
Kegiatan dihadiri jajaran Direksi Perum Jasa Tirta II, para narasumber, serta perwakilan serikat pekerja BUMN Perum dan federasi serikat pekerja di bawah Konfederasi Serikat Pekerja BUMN. Kehadiran berbagai elemen tersebut dinilai penting untuk membangun solidaritas dan dialog mengenai masa depan BUMN berbentuk Perum.
Ketua Umum Sekar PJT II, Sugeng Riyanto, mengatakan HUT ke-23 bukan sekadar agenda seremonial.
“Dua puluh tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ada banyak cerita, perjuangan, suka dan duka yang sudah dilewati bersama. HUT ini bukan hanya tentang merayakan usia organisasi, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar dari perjalanan tersebut untuk menatap masa depan dengan lebih baik,” ujar Sugeng.
Ia menilai tema “Corporate Split Identity” sangat relevan dengan kondisi BUMN Perum saat ini. Di satu sisi perusahaan harus menjaga kesehatan dan profesionalisme korporasi, di sisi lain tetap memiliki tanggung jawab pelayanan publik.
“Jangan sampai kita hanya melihat perusahaan dari sisi bisnis, tetapi melupakan fungsi pelayanan publik. Sebaliknya, pelayanan publik juga harus didukung perusahaan yang sehat, profesional, dan berkelanjutan,” kata Sugeng.
Menurutnya, pekerja memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Perubahan lingkungan usaha dan regulasi berdampak tidak hanya pada perusahaan, tetapi juga pada kehidupan pekerja. Karena itu ia berharap hubungan manajemen dan pekerja terus dibangun melalui komunikasi terbuka dan saling menghormati.
“Kalau perusahaan sehat, pekerja juga akan lebih tenang. Tetapi kemajuan perusahaan harus dibangun bersama, dengan memberikan ruang dialog dan memastikan hak-hak pekerja tetap jadi perhatian,” tuturnya.
Sugeng juga menyampaikan apresiasi kepada para pendahulu dan seluruh anggota yang menjaga keberlangsungan serikat.
“Tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang lebih baik,” lanjut nya.
Dalam acara tersebut disampaikan apresiasi kepada Direksi Perum Jasa Tirta II, narasumber, serikat pekerja BUMN Perum, federasi di bawah Konfederasi Serikat Pekerja BUMN, panitia, dan seluruh anggota Sekar PJT II.
“Mudah-mudahan setelah HUT ini kita membawa semangat baru. Kita ingin Sekar PJT II semakin dewasa, semakin solid, dan semakin mampu menjadi mitra strategis perusahaan sekaligus memperjuangkan kepentingan pekerja secara bertanggung jawab,” pungkas Sugeng.
Peringatan HUT ke-23 diharapkan menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat hubungan industrial, meningkatkan solidaritas pekerja, dan mendorong tata kelola perusahaan yang lebih sehat. Ke depan, BUMN Perum dituntut adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan mandat pelayanan publiknya.


