Lampumerahnews.id
Jakarta— Ruang publik kembali gaduh oleh ulah salah satu pengacara paling tersohor di Indonesia, Hotman Paris Hutapea. Sosok yang kerap tampil dengan kemewahan dan dikelilingi asisten pribadi itu kedapatan melontarkan makian kasar kepada awak media dalam sebuah konferensi pers beberapa waktu lalu.
Kalimat merendahkan, “Kau punya otak enggak?”, terlontar saat Hotman dikonfirmasi wartawan mengenai keterlibatannya dalam pusaran pembelaan kasus hukum penguasa. Sikap tersebut memicu keprihatinan dari berbagai kalangan.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum DPN Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke , menilai umpatan tersebut sebagai cerminan kelas sosial dan mentalitas asli sang pengacara.
“Gaya bicara seperti itu indikasi kuat kalau dia sedang mengalami degradasi mental, menunjukkan jati diri sebagai manusia rendahan yang sedang kelabakan karena urusan isi dompet,” ujar Wilson kepada wartawan, Senin (20/7/2026).
Menurut aktivis HAM internasional dan alumni PPRA-48 Lemhannas RI ini, kekayaan materi seperti mobil mewah dan berlian bukanlah indikator kekayaan hakiki. Justru sering kali menjadi kedok bagi jiwa yang miskin dan haus validasi.
“Lihat saja para koruptor miliaran rupiah. Negara sudah fasilitasi rumah mewah, mobil dinas, tunjangan melimpah. Tapi karena bermental miskin, mereka tetap merasa kurang dan menghalalkan segala cara. Kondisi psikologis yang sama tampaknya sedang menjangkiti Hotman Paris,” tegas Wilson.
Ia menganalisis, perubahan emosi Hotman tak lepas dari tekanan eksternal. Saat ini Hotman menghadapi kecaman publik karena keputusannya membela Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah , yang terseret sorotan kasus korupsi besar.
“Dampaknya terlihat jelas pada kondisi psikologisnya. Jiwanya terganggu, pola pikir kacau, dan bicaranya tidak terkontrol. Umpatan kepada wartawan adalah bentuk pertahanan diri yang rapuh dari seseorang yang argumen hukumnya sudah rontok,” tambah Wilson yang juga mantan dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara.
Fenomena ini mengingatkan pada konsep Bad Faith dari filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre . Saat penegak hukum mengorbankan nilai keadilan demi membela elit dan menumpuk harta, ia terjebak dalam kepalsuan eksistensial yang memicu kecemasan dan ledakan amarah.
Senada dengan filsuf Stoik Seneca : “Non qui parum habet, sed qui plus cupit, pauper est ” bukan yang memiliki sedikit yang miskin, melainkan yang selalu menginginkan lebih.
“Hotman, dengan segala kemewahan fisiknya, terjebak dalam kemiskinan eksistensial karena jiwanya terus merasa terancam oleh kekurangan materi dan pudarnya atensi publik,” ujar Wilson.
Di akhir pernyataannya, Wilson meminta awak media tidak berkecil hati. Ia menyebut makian itu justru pengakuan jujur dari frustrasi.
“Dia mengumpat karena otaknya sendiri sudah buntu, tidak mampu menjawab pertanyaan kritis yang mewakili keresahan publik. Wartawan justru menang secara moral, sementara dia menelanjangi kebodohannya sendiri di depan kamera yang membesarkannya,” pungkas petisioner PBB 2025 itu.


