-->

TERKINI

Indonesia dan Tiongkok Sepakat Perkuat Kerja Sama Iklim dan Pembangunan Hijau

lampumerahnews
Kamis, 30 Juli 2026, 22.29 WIB Last Updated 2026-07-30T15:37:09Z

 


Lampumerahnews.id

JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menerima kunjungan kehormatan Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat Tiongkok, HE Liu Zhenmin, di Kantor KLH, Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis  (30/7/2026).


Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–Tiongkok di bidang perubahan iklim, perlindungan lingkungan, transisi energi, dan pembangunan hijau. Ini merupakan tindak lanjut dari Joint Statement on Deepening Comprehensive Strategic Cooperation kedua negara.


Dalam pertemuan, Indonesia dan Tiongkok menekankan pentingnya implementasi Persetujuan Paris berdasarkan prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC). Kedua negara juga mendorong negara maju memenuhi komitmen pendanaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas bagi negara berkembang.


Selain itu, Indonesia dan Tiongkok sepakat mempererat koordinasi menjelang forum-forum internasional untuk memperjuangkan kepentingan negara berkembang.


"Growth through Environmental Protection"

Menteri Jumhur menegaskan Indonesia mengusung paradigma "Growth through Environmental Protection". Perlindungan lingkungan dijadikan fondasi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan pasar karbon, keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, dan keadilan iklim.


"Perlindungan lingkungan harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia siap memperkuat kerja sama dengan Tiongkok untuk menghadirkan solusi nyata bagi aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan," ujar Menteri Jumhur.


Menurutnya, sebagai dua negara berkembang besar, Indonesia dan Tiongkok memiliki tanggung jawab bersama menghadirkan solusi perubahan iklim global tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan nasional.


"Indonesia meyakini perlindungan lingkungan bukan beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Manfaat ekonomi hijau harus dirasakan secara adil oleh masyarakat," katanya.


Menteri Jumhur menjelaskan Indonesia tengah mengembangkan pendekatan baru yang mengintegrasikan mitigasi, adaptasi, dan prosperity sebagai tiga pilar aksi iklim nasional. Pendekatan ini akan diperkuat melalui pasar karbon, biodiversity credit, mekanisme benefit sharing, dan penguatan prinsip Climate Justice.


Tiongkok Siap Perluas Kerja Sama

Sementara itu, HE Liu Zhenmin mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dalam agenda pembangunan hijau. Tiongkok menyatakan siap memperluas kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini, ekonomi sirkular, dan perlindungan lingkungan.


Pertemuan juga membahas penguatan kerja sama dalam energi terbarukan, pasar karbon, waste-to-energy, perlindungan keanekaragaman hayati, hilirisasi mineral kritis, riset bersama, dan peningkatan kapasitas SDM.


Kedua negara sepakat menindaklanjuti peluang kerja sama melalui koordinasi teknis intensif agar menghasilkan program yang memberi manfaat nyata.


Pertemuan ini mempertegas komitmen Indonesia dan Tiongkok untuk mewujudkan pembangunan rendah karbon, ketahanan iklim, dan perlindungan lingkungan yang mendukung kesejahteraan masyarakat serta pencapaian SDGs.

Komentar

Tampilkan

Terkini